Sharing Materi Perkuliahan Sarjana dan Pascasarjana yang ditulis secara pribadi atas tugas kuliah: Mengenai materi Akuntansi, Ekonomi, Sistem Informasi, Teknik Informatika, Informasi Teknologi dan Pengetahuan Umum

Sabtu, 28 Februari 2015

Pengimplementasian ABC dan ABM Sistem di Indonesia

By Briyan Efflin Syahputra



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dewasa ini, semakin berkembanganya perkembangan zaman menutut banyak perusahaan di Dunia, termasuk di perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk selalu mengikuti perkembangan zaman tersebut. Banyak perubahan yang harus dilakukan banyak perusahaan untuk menghadapi perkembangan zaman tersebut. Dalam menghadapi perkembangan tersebut, perusahaan selalu dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi, termasuk didalamnya metode-metode yang tepat dalam pelakasanaan kegiatan perusahaan tersebut, termasuk didalamnya metode yang digunakan untuk menghitungan biaya produksi yang akan dilaksanakan suatu perusahaan.
Pada saat ini, kita mengetahui terdapat metode yang baru dalam perhitungan biaya produksi yang mana metode ini lahir untuk menjadi solusi yang baik atas metode tradisional yang masih banyak sekali kekuranganya. Yang menjadi permasalahan saat ini adalah bahwa masih banyak sekali perusahaan-perusahaan di dunia yang belum secara optimal menggunakan ABC/ABM sytem ini, padahal metode ini sangat baik untuk digunakan bagi suatu perusahaan. Akan tetapi telah cukup banyak juga perusahaan yang telah mengimplementasikan metode ini, termasuk diindonesia, akan tetapi yang menjadi pertaanyaan apakah di Indonesia metode ini telah dimplementasikan dengan baik. Untuk itu Paper ini disusun untuk mengungkap apakan mayoritas perusahaan di Indonesia telah mengimplementasikan ABC/ABM System ini.


B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah Activity Based Costing itu?
2.      Apakah Activity Based Management itu?
3.      Bagaiamanakah pengimplememtasian ABC/ABM System di Indonesia?

C.    Tujuan
1.      Pembaca dapat memahami dengan baik yang dimaksud dengan Activity Based Costing.
2.      Pembaca dapat mengerti dan memahami yang dimaksud dengan Activity Based Management.
3.      Pembaca dapat memahami bagaimana pengimplementasian dari ABC/ABM di Indonesia.

D.    Manfaat
1.      Pahamnya pembaca mengenai Activity Based Activity
2.      Mengerti dan pahamnya pembaca mengenai Activity Based Management
3.      Pehamnya pembaca bagaiamana pengimplementasian ACC/ABC system di Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Activity Based Costing System
1.      Activity Based Costing (ABC)
Activity-Based Costing (ABC) adalah suatu sistem informasi akuntansi yang mengidentifikasi berbagai aktivitas yang dikerjakan dalam suatu organisasi dan mengumpulkan biaya dengan dasar dan sifat yang ada dan perluasan dari aktivitasnya. ABC memfokuskan pada biaya yang melekat pada produk berdasarkan aktivitas untuk memproduksi, mendistribusikan atau menunjang produk yang bersangkutan.
Sistem ABC timbul sebagai akibat dari kebutuhan manajemen akan informasi akuntansi yang mampu mencerminkan konsumsi sumber daya dalam berbagai aktivitas untuk menghasilkan produk secara akurat. Hal ini didorong oleh:
·         Persaingan global yang tajam yang memaksa perusahaan untuk cost effective
·         Advanced manufacturing technology yang menyebabkan proporsi biaya overhead pabrik dalam product cost menjadi lebih tinggi dari primary cost.
·         Adanya strategi perusahaan yang menerapkan market driven strategy
Kelemahan sistem akuntansi biaya tradisional:
·         Akuntansi biaya tradisional dirancang hanya menyajikan informasi biaya pada tahap produksi.
·         Alokasi biaya overhead pabrik hanya didasarkan pada jam tenaga kerja langsung atau hanya dengan volume produksi.
·         Ada diversitas produk, dimana masing-masing produk mengkonsumsi biaya overhead yang berbeda beda.
Penerapan ABC sistem akan relevan bila biaya overhead pabrik merupakan biaya yang paling dominan dan multiproduk. Dalam merancang ABC sistem, aktivitas untuk membuat dan menjual produk digolonhkan dalam 4 kelompok, yaitu:
a.       Facility sustaining activity cost ----- biaya yang berkaitan dengan aktivitas mempertahankan kapasitas yang dimiliki perusahaan. Misal biaya depresiasi, biaya asuransi, biaya gaji pegawai kunci
b.      Product sustaining activity cost ----- biaya yang berkaitan dengan aktivitas penelitian dan pengembangan produk dan biaya untuk mempertahankan produk untuk tetap dapat dipasarkan. Misal biaya pengujian produk, biaya desain produk
c.       Bacth activity cost ----- biaya yang berkaitan dengan jumlah bacth produk yang diproduksi. Misal biaya setup mesin.
d.      Unit level activity cost ---- biaya yang berkaitan dengan besar kecilnya jumlah unit produk yang dihasilkan. Misal biaya bahan baku, biaya tenaga kerja

Langkah-langkah ABC sistem:
·         Tahap pertama pengelompokan biaya overhead ke dalam kelompok biaya yang homogen. Kelompok biaya homogen merupakan kumpulan overhead yang variasinya dapat dijelaskan oleh satu faktor penyebab (cost driver). Untuk menentukan mana kelompok biaya yang homogen, dapat melihat biaya yang mempunyai rasio konsumsi sama untuk seluruh produk.
·         Tahap kedua alokasi biaya overhead pabrik:
Alokasi biaya overhead = Tarif kelompok x Dasar pembebanan yang dikonsumsi

2.      Konsep-Konsep Dasar Activity Based Costing
Activity Based Costing Sistem adalah suatu sistem akuntansi yang terfokus pada aktivitas-aktifitas  yang dilakukan untuk menghasilkan produk/jasa.  Activity Based Costing menyediakan informasi perihal aktivitas-aktivitas dan sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut. Aktivitas adalah setiap kejadian atau transaksi yang merupakan pemicu biaya (cost driver) yakni, bertindak sebagai faktor penyebab dalam pengeluaran biaya dalam organisasi. Aktivitas-aktivitas ini menjadi titik perhimpunan biaya. Dalam sistem ABC, biaya ditelusur ke aktivitas dan kemudian ke produk. System  ABC mengasumsikan bahwa aktivitas aktivitaslah, yang mengkonsumsi sumber daya dan bukannya produk.

3.      Perbandingan Biaya Produk Tradisional dan ABC
Metode  ABC memandang bahwa biaya overhead dapat dilacak dengan secara memadai pada berbagai produk secara individual. Biaya yang ditimbulkan oleh cost driver berdasarkan unit adalah biaya yang dalam metode tradisional disebut sebagai biaya variabel.
Metode  ABC memperbaiki keakuratan perhitungan harga pokok produk dengan mengakui bahwa banyak dari biaya overhead tetap bervariasi dalam proporsi untuk berubah selain berdasarkan volume produksi. Dengan memahami apa yang menyebabkan biaya-biaya tersebut meningkat dan menurun, biaya tersebut dapat ditelusuri kemasing-masing produk. Hubungan sebab akibat ini  memungkinkan manajer untuk memperbaiki ketepatan kalkulasi biaya produk yang dapat secara signifikan memperbaiki pengambilan keputusan (Hansen  dan  Mowen, 2004: 157-158)
Digambarkan dalam tabel, perbedaan antara penentuan harga pokok produk tradisional dan sistem ABC, yaitu:  
Tabel
Perbedaan penetapan harga pokok produk
Tradisional dengan Metode Activity Based Costing

Metode Penentuan Harga Pokok Produk Tradisional
Metode Activity Based Costing
Tujuan
Inventory level
Product Costing
Lingkup
Tahap produksi
Tahap desain, produksi, Tahap pengembangan
Fokus
Biaya bahan baku, tenaga kerja langsung
Biaya overhead
Periode
Periode akuntansi
Daur hidup produk
Teknologi yang digunakan
Metode manual
Komputer telekomunikasi

4.      Struktur sistem ABC
Desain  ABC difokuskan pada kegiatan, yaitu apa yang dilakukan oleh tenaga kerja dan peralatan  untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Kegiatan adalah segala sesuatu yang mengkonsumsi sumber daya perusahaan. Dengan memusatkan perhatian pada kegiatan dan bukannya departemen atau fungsi, maka sistem  ABC akan dapat menjadi media untuk memahami, memanajemeni, dan memperbaiki suatu usaha.
Ada dua asumsi penting yang mendasari Metode Activity Based Costing, yaitu:  
·         Aktivitas-aktivitas yang menyebabkan timbulnya biaya Metode  Activity Based Costing bahwa sumber daya pembantu atau sumber daya tidak langsung menyediakan kemampuannya untuk melaksanakan kegiatan bukan hanya sekedar penyebab timbulnya biaya.
·         Produk atau pelanggan jasa Produk menyebabkan timbulnya permintaan atas dasar aktivitas untuk membuat produk atau jasa yang diperlukan berbagai kegiatan yang menimbulkan sumber daya  untuk melaksanakan aktivitas tersebut.  
Asumsi tersebut diatas merupakan konsep dasar dari sitem  ABC. Selanjutnya, karena adanya aktivitas akan menimbulkanan biaya, maka untuk dapat menjalankan usahanya secara efisien, perusahaan harus dapat mengelola aktivitasnya. Dalam hubungannya dengan biaya produk, maka biaya yang dikonsumsi untuk menghasilkan produk adalah biaya-biaya untuk aktivitas merancang, merekayasa, memproduksi, menjual dan memberikan pelayanan produk.

5.      Syarat Penerapan Sistem Activity-Based Costing
Dalam penerapannya,  penentuan harga pokok dengan menggunakan sistem ABC menyaratkan tiga hal:
·         Perusahaan mempunyai tingkat diversitas yang tinggi
Sistem ABC mensyaratkan bahwa perusahaan memproduksi beberapa macam produk atau lini produk  yang diproses dengan menggunakan  fasilitas yang sama. Kondisi yang demikian tentunya akan menimbulkan masalah dalam membebankan biaya ke masing-masing produk.
·         Tingkat persaingan industri yang tinggi
Yaitu terdapat beberapa perusahaan yang menghasilkan produk yang sama atau sejenis. Dalam persaingan antar perusahaan yang sejenis tersebut maka perusahaan akan  semakin meningkatkan persaingan untuk memperbesar pasarnya. Semakin besar tingkat persaingan maka semakin penting peran informasi tentang harga pokok dalam mendukung pengambilan keputusan manajemen.
·         Biaya pengukuran yang rendah
Yaitu bahwa biaya yang digunakan system ABC untuk menghasilkan informasi biaya yang akurat harus lebih rendah dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh.
Ada dua hal mendasar yang harus dipenuhi sebelum kemungkinan penerapan metode ABC, yaitu:
·         Biaya berdasarkan non unit  harus merupakan prosentase yang signifikan dari biaya overhead. Jika hanya terdapat biaya overheadyang dipengaruhi hanya oleh volume produksi dari keseluruhan overhead pabrik maka jika digunakan akuntansi biaya tradisionalpun informasi biaya yang dihasilkan masih akurat sehingga penggunaan sisitem ABC  kehilangan relevansinya. Artinya Activity Based Costingakan lebih baik diterapkan pada  perusahaan yang biaya overheadnya tidak hanya dipengaruhi oleh volume produksi saja.
·         Rasio konsumsi antara aktivitas berdasarkan unit dan berdasarkan non unit harus berbeda. Jika rasio konsumsi antar aktivitas sama, itu artinya semua biaya overhead yang terjadi bisa diterangkan dengan satu pemicu biaya. Pada kondisi ini penggunaan system  ABC justru tidak tepat karena sistem  ABC hanya dibebankan ke produk dengan menggunakan pemicu biaya baik unit maupun non unit (memakai banyak cost driver). Apabila berbagai produk rasio konsumsinya sama, maka sistem akuntansi biaya tradisional atau sistem  ABCmembebankan biaya overhead dalam jumlah yang sama. Jadi perusahaan yang produksinya homogen (diversifikasi paling rendah) mungkin masih dapat  mengunakan sistem tradisional tanpa ada masalah.

6.      Pembebanan Biaya Overhead pada Activity-Based Costing
Pada  Activity-Based Costing meskipun pembebanan biaya-biaya overhad pabrik dan produk juga menggunakan dua tahap seperti pada akuntansi biaya tradisional, tetapi pusat biaya yang dipakai untuk pengumpulan biaya-biaya pada tahap pertama dan dasar pembebanan dari pusat biaya kepada produk pada tahap kedua sangat berbeda dengan akuntansi biaya tradisional.
Activity-Based costing menggunakan lebih banyak cost driver bila dibandingkan dengan sistem pembebanan biaya pada akuntansi biaya tradisional. Sebelum sampai pada prosedure pembebanan dua tahap dalam Activity-Based Costing perlu dipahami hal-hal sebagai berikut:
·         Cost Driver adalah suatu kejadian yang menimbulkan biaya.  Cost Driver merupakan faktor yang dapat menerangkan konsumsi biayabiaya overhead. Faktor ini menunjukkan suatu penyebab utama tingkat aktivitas yang akan menyebabkan biaya dalam aktivitasaktivitas selanjutnya.
·         Rasio Konsumsi adalah proporsi masing-masing aktivitas yang dikonsumsi oleh setiap produk,  dihitung dengan cara membagi jumlah aktivitas yang dikonsumsi oleh suatu produk dengan jumlah keseluruhan aktivitas tersebut dari semua jenis produk.
·         Homogeneous Cost Pool merupakan kumpulan biaya dari  overheadyang variasi biayanya dapat dikaitkan dengan satu pemicu biaya saja. Atau untuk dapat disebut suatu kelompok biaya yang homogen, aktivitas-aktivitas overhead secara logis harus berhubungan dan mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk.

7.      Cost Driver
Landasan penting untuk menghitung biaya berdasarkan aktivitas adalah dengan mengidentifikasi pemicu biaya atau cost driver untuk setiap aktivitas. Pemahaman yang tidak tepat  atas pemicu akan mengakibatkan ketidaktepatan pada pengklasifikasian biaya, sehingga menimbulkan dampak bagi manajemen dalam mengambil keputusan.
Jika perusahaan memiliki  beberapa jenis produk maka biaya overhead yang terjadi ditimbulkan secara bersamaan oleh seluruh produk. Hal ini menyebabkan jumlah  overhead  yang ditimbulkan oleh masing-masing jenis produk harus diidentifikasi melalui cost driver.   
·         Pengertian Cost Driver  
Cost driver merupakan faktor yang dapat menerangkan konsumsi biaya-biaya  overhead. Faktor ini menunjukkan suatu penyebab utama tingkat aktifitas yang akan menyebabkan biaya dalam aktifitas.
·         Penentuan Cost Driver Yang Tepat
Aktivitas yang ada dalam perusahaan sangat komplek dan banyak jumlahnya. Oleh karena itu perlu pertimbangn yang matang dalam menentukan penimbul biayanya atau cost driver.
·         Penentuan jumlah cost driver yang dibutuhkan  
Penentuan banyaknya cost driver yang dibutuhkan berdasarkan pada keakuratan laporan product cost yang diinginkan dan kompleksitas komposisi output perusahaan. Semakin banyak cost driver yang digunakan, laporan biaya produksi semakin akurat. Dengan kata lain semakin tinggi tingkat keakuratan yang diinginkan, semakin banyak cost driveryang dibutuhkan.
·         Pemilihan cost driver yang tepat.
Dalam pemilihan  cost driver yang tepat ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan:
a.       Kemudahan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam pemilihan  cost driver (cost of measurement).  Cost driver yang membutuhkan biaya pengukuran lebih rendah akan dipilih.
b.      Korelasi antara konsumsi aktivitas yang diterangkan oleh cost driver  terpilih dengan konsumsi aktivitas sesungguhnya 20(degree of correlation). Cost driver yang  memiliki korelasi tinggi akan dipilih.  
c.       Perilaku yang disebabkan oleh cost driver terpilih  (behavior effec). cost driver yang menyebabkan perilaku yang diinginkan yang akan dipilih

8.      Keunggulan Metode ABC
Amin (1994: 23) mengemukakan tentang keunggulan ABC adalah sebagai berikut:
a.       Suatu pengkajian  ABC dapat meyakinkan manajemen bahwa mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk menjadi lebih kompetitif. Sebagai hasilnya mereka dapat berusaha untuk meningkatkan mutu sambil secara simultan memfokus pada mengurangi biaya. Analisis biaya dapat menyoroti bagaimana benar-benar mahalnya proses manufakturing, yang pada akhirnya dapat memicu aktivitas untuk mereorganisasi proses, memperbaiki mutu dan mengurangi biaya.
b.      ABC dapat membantu dalam pengambilan keputusan.  
c.       Manajemen akan berada dalam suatu posisi untuk melakukan penawaran kompetitif yang lebih wajar.
d.      Dengan analisis biaya yang diperbaiki, manajemen dapat melakukan analisis yang lebih akurat mengenai volume, yang dilakukan untuk mencari break even atas produk yang bervolume rendah.  
e.       Melalui analisis data biaya  dan pola konsumsi sumber daya, manajemen dapat mulai merekayasa kembali proses manufakturing untuk mencapai pola keluaran mutu yang lebih efisien dan lebih tinggi.

9.      Kelemahan Sistem akuntansi Biaya Tradisional
Hal-hal yang tidak diberitahukan oleh sistem akuntansi biaya tradisional kepada manajemen banyak sekali. Akuntansi biaya tradisional memberi sedikit ide kepada manajemen pada saat harus mengurangi pengeluaran pada waktu yang mendesak. Sistem tersebut hanya memberikan laporan manajemen dengan menunjukkan dimana biaya dikeluarkan dan tidak ada indikasi apa-apa yang menimbulkan biaya.
Sistem biaya tradisional memang memeperhatikan biaya total perusahaan, akan tetapi mereka mengabaikan “below the line expenses”, seperti penjualan, distribusi, riset, dan pengembangan serta biaya administrasi. Biaya-biaya ini tidak dibebankan kepasar, pelanggan, saluran distribusi, atau bahkan produk yang  berbeda. Banyak manajer yang percaya bahwa biaya-biaya ini adalah tetap. Oleh sebab itu, biaya-biaya “below the line” ini diperlakukan  secara sama dengan mendistribusikannya kepada pelanggan. Padahal, sekarang ini beberapa pelanggan jauh lebih mahal untuk dilayani dibandingkan dengan yang lain dan sebenarnya beberapa biaya tersebut adalah biaya variabel. (Amin, 1992: 22).
Dengan berkembangnya dunia teknologi,  sistem biaya tradisional mulai dirasakan tidak mampu menghasilkan  produk yang akurat lagi. Hal ini disebabkan karena lingkungan global  menimbulkan banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab sistem akuntansi biaya tradisional, antara lain:
a.       Sistem akuntansi biaya tradisional terlalu menekankan pada tujuan penentuan harga pokok produk yang dijual. Akibatnya sistem ini hanya menyediakan informasi yang relatif sangat sedikit untuk mencapai keunggulan dalam persaingan global.
b.      Sistem akuntansi biaya tradisional untuk biaya  overhead terlalu memusatkan pada distribusi dan alokasi biaya  overhead  daripada berusaha keras untuk mengurangi pemborosan dengan menghilangkan aktivitas yang tidak bernilai tambah.
c.       Sistem akuntansi biaya tradisional tidak mencerminkan sebab akibat biaya karena seringkali beranggapan bahwa biaya ditimbulkan oleh faktor tunggal misalnya volume produk atau jam kerja langsung.
d.      Sistem akuntansi biaya tradisional menghasilkan informasi biaya yang terdistorsi sehingga mengakibatkan pembuatan keputusan yang menimbulkan konflik dengan keunggulan perusahaan.
e.       Sistem akuntansi biaya tradisional menggolongkan biaya langsung dan tidak langsung serta biaya tetap dan variabel hanya mendasarkan faktor penyebab tunggal misalnya volume produk, padahal dalam lingkungan teknologi maju cara penggolongan tersebut menjadi kabur karena biaya dipengaruhi oleh berbagai macam aktivitas.
f.       Sistem akuntansi biayaa  tradisional menggolongkan suatu perusahaan kedalam pusat-pusat pertanggung jawaban yang kaku dan terlalu menekankan kinerja jangka pendek.
g.      Sistem akuntansi biaya tradisional memusatkan perhatian kepada perhitungan selisih biaya pusat-pusat pertanggngjawaban tertantu dengan menggunakan standar.
h.      Sistem akuntansi biaya tradisional tidak banyak memerlukan alatalat dan teknik-teknik yang canggih dalam sistem informasi dibandingkan pada lingkungan teknologi maju.
i.        Sistem akuntansi biaya tradisional kurang menekankan pentingnya daur hidup produk. Hal ini dibuktikan dengan perlakuan akuntansi biaya tradisional terhadap biaya aktivitas-aktivitas perekayasaan, penelitian dan pengembangan. Biay-biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periode sehingga menyebabkan terjadinya distorsi harga pokok daur hidup produk.

B.     Activity Based Management System
1.      Pengertian ABM System
Manajemen berdasarkan aktivitas (Activity-Based Management) merupakan suatu konsep yang mengarahkan perhatian pada konsumsi sumber daya terhadap aktivitas yang dilakukan oleh suatu perusahaan, sehingga untuk dapat mengetahui bagaimana suatu perusahaan menggunakan sumber dayanya, maka terlebih dahulu haruslah dipahami mengenai aktivitas-aktivitas apa sajakah yang telah terjadi di dalam perusahaan tersebut. Aktivitas-aktivitas tersebut merupakan aktivitas yang telah mengkonsumsi sumber daya melalui pengidentifikasian pemicu biayanya, dimana biaya-biaya ini timbul karena dilaksanakannya aktivitas-aktivitas tersebut.
Pengertian dan pemahaman yang baik mengenai berbagai aktivitas yang telah dilaksanakan, akan dapat memberikan pandangan yang baik tentang bagaimana menggunakan, mengelola, dan mengendalikan sumber daya perusahaan, dan dapat pula digunakan untuk mengetahui peluang yang ada untuk meningkatkan kinerja perusahaan serta memberi pedoman yang baik untuk menilai kinerja tersebut dalam rangka untuk mendukung perbaikan berkesinambungan (continous improvement).
Activity based management (manajemen berdasarkan aktivitas) merupakan pendekatan yang terintegrasi yang memfokuskan perhatian manajemen pada aktivitas yang bertujuan untuk meningkatkan nilai yang diterima oleh pelanggan (customer value) dan meningkatkan laba perusahaan melalui penyediaan nilai pelanggan tersebut dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari activity-based costing system, dimana antara ABM dengan ABC saling berkaitan satu sama lain.

2.      Dimensi Activity Based Management
Manajemen berdasarkan aktivitas memiliki dua dimensi, yaitu sebagai berikut:
a.       Dimensi biaya (cost dimension).
Memberikan informasi biaya mengenai sumber daya, aktivitas, produk dan pelanggan (serta biaya-biaya lain yang diperlukan), dimana biaya-biaya sumber daya dapat ditelusuri ke aktivitas-aktivitas dan kemudian biaya aktivitas tersebut dibebankan ke pelanggan. Dengan demikian dimensi ini merefleksikan kebutuhan untuk membagi sumber daya biaya (cost of resources) terhadap aktivitas dan biaya aktivitas (cost of activities) terhadap obyek biaya (cost object), seperti pelanggan dan produk agar dapat menganalisis keputusan kritikal. Keputusan tersebut termasuk penetapan harga, pengadaan produk dan penetapan prioritas untuk usaha perbaikan.
b.      Dimensi proses (process dimension).
Memberikan informasi mengenai aktivitas apa saja yang dilaksanakan, mengapa aktivitas tersebut dilaksanakan dan seberapa baik pelaksanaannya. Dimensi ini menjelaskan mengenai akuntasi pertanggung jawaban berdasarkan aktivitas dan lebih memfokuskan pada pertanggung jawaban aktivitas bukan pada biaya, dan menekankan pada maksimalisasi kinerja system secara menyeluruh bukan pada kinerja secara individu. Dengan demikian dimensi ini merefleksikan kebutuhan untuk suatu kategori informasi yang baru mengenai kinerja aktivitas. Informasi ini menunjukkan apa yang menyebabkan pemicu biaya dan bagaimana pengukuran kinerjanya. 

3.      Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan penerapan Activity based Management
Usaha perbaikan secara terus-menerus dengan cara penerapan system manajemen biaya yang baru ke dalam suatu organisasi tidak secara otomatis bisa diterima oleh organisasi tersebut. Karyawan dari organisasi tersebut umumnya cenderung untuk menolak perubahan yang terjadi, karena perubahan dapat merupakan ancaman untuk berbagai alasan.
Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan penerapan activity based management dalam suatu organisasi adalah sebagai berikut:

·         Budaya organisasi
Budaya organisasi mencerminkan kerangka berpikir dari karyawan termasuk perilaku, nilai, keyakinan yang dianut oleh karyawan. Budaya organisasi menunjukkan keterlibatan, kerja sama serta partisipasi yang tinggi dari seluruh karyawan. Budaya organisasi sangatlah mendukung keberhasilan dari penerapan ABM di suatu organisasi.
·         Top management support and commitment
Penerapan suatu system manajemen biaya yang baru seperti ABM dan ABC membutuhkan waktu dan sumber daya, oleh karena itu dukungan dan peran serta top manajer sangatlah diperlukan untuk keberhasilan penerapannya.
·         Change process
Perubahan bisa terjadi apabila diterapkannya suatu proses yang sudah dirancang untuk menghasilkan perubahan tersebut. Perbaikan dari proses yang sudah ada sangat mendukung keberhasilan penerapannya. Elemen-elemen dari proses diantaranya adalah daftar dari aktivitas, sekumpulan tujuan, dan tindakan lanjutan.
·         Continuing education
Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengikuti pelatihan serta meningkatkan keahlian mereka terhadap lingkungan kerja yang cepat sangatlah penting.Keberhasilan penerapan dari program manajemen biaya yang baru membutuhkan keahlian, peran serta dan kerja sama dari karyawan suatu organisasi.

C.    Pengimplementasian ABC dan ABM System di Indonesia
Berdasarkan informasi diatas dapat disimpulkan bahwa pada saat ini telah ditemukan metode baru dalam perhitungan harga pokok produksi yang lebih baik dari pada metode-metode yang telah digunakan sebelumnya yaitu metode perhitungan tradisional. Dapat disimpulkan bahwa dengan adanya metode ABC/ABM Sytem ini merupakan suatu solusi yang sangat tepat bagi perusahaan ini.
Pada saat ini perusahaan didunia, khususnya di Indonesia selalu dituntut untuk melakukan perkembangan dalam melakukan semua kegiatan perusahaan. Dengan adanya perkembangan zaman perusahaan-perusahaan selalu dituntut untuk selalu melakukan pembaharuan untuk kemajuan perusahaan itu sendiri, seperti mengikuti perkembanga teknologi, metode-metode yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan operasional perusahaan termasuk didalamnya metode yang digunakan untuk melakukan perhitungan harga pokok produksi. Metode yang tepat dalam perhitungan harga pokok produksi aka selalu menjadi salah satu perhatian utama perusahaan. Penggunaan metode tradisional dalam perhitungan harga pokok produksi ataupun perhitungan informasi biaya bukanlah suatu metode yang tepat dalam pelaksanaanya, untuk itu diharapkan sekali bagi perusahaan pada saat lebih baik menggunakan metode ABC/ABM system dalam melakukan perhitunga tersebut, karena metode ini lahir ditujukan untuk menjadi solusi dalam perbaikan atas metode tradisional. Akan tetapi sesuai atau tidaknya penerapan metode-metode tersebut juga harus disesuaikan dengan kondisi perusahaan, apakah cocok atau tidak.
Berdasarkan data yang kami peroleh di Indonesia sendiri dalam Pengimplementasian Activity Based Costing (ABC) dan Activity Based Management (ABM) System masih belum optimal. Berdasarkan data-data yang kami peroleh masih banyak sekali perusahaan di Indonesia yang belum mengimplementasikan metode ini. Umumnya metoda yang digunakan oleh perusahaan yang berada di Indonesia adalah pemerataan biaya secara umum untuk masing-masing produk. Padahal masing-masing produk tersebut kenyataannya tidak menggunakan sumber daya dalam jumlah yang sama. Pemerataan biaya dapat menyebabkan kekurangan atau kelebihan biaya produk. Perusahaan yang produknya mengalami kekurangan biaya bisa jadi melakukan penjualan yang sebenarnya menghasilkan kerugian, meskipun perusahaan tersebut menganggap penjualan produknya tersebut menghasilkankeuntungan. Jadi penjualan yang dilakukan menghasilkan lebih sedikit pendapatan dibanding biaya sumber daya yang digunakan. Sementara perusahaan yang produknya mengalami kelebihan biaya bisa jadi menetapkan harga yang terlalu tinggi, sehingga produknya kehilangan daya saing dibanding produk sejenis yang diproduksi perusahaan lain.
Berdasarkan penjelasan diatas, mayoritas perusahaan masih menggunakan metode tradisional dalam perhitungan harga pokok produksinya atau menghasilkan perhitungan informasi biayanya. Banyak alasan kenapa kebanyakan perushaan di Indonesia yang belum mengimplementasikan ABC/ABM system ini. berikut beberapa perusahaan yang tidak menggunakan ABC/ABM System, antara lain:
a)      PT MERTEX INDONESIA, PT. MERTEX INDONESIA merupakan perusahaan besar yang memproduksi beberapa jenis tekstil, selain tekstil perusahaan ini juga memproduksi benang. Dalam perusahaan ini masing-masing produk yang dihasilkan memiliki karakteristik yang berbeda baik tipe, kualitas, dan kuantitasnya. PT. MERTEX INDONESIA juga merupakan perusahaan manufaktur yang diotomatisasi, yang dapat dilihat dari beberapa departemen produksi yang telah menggunakan peralatan modern dan canggih dalam produksinya, tetapi sampai saat ini PT. MERTEX INDONESIA masih menggunakan sistem konvensional atau tradisional untuk menghitung harga pokok produksinya
b)      PT Panca Mitra Sandang Indah adalah salah satu perusahaan tekstil yang sampai saat ini belum menerapkan Activity-based costing system. Activity-Based Costing (ABC) memiliki penerapan penelusuran biaya yang lebih menyeluruh dibandingkan dengan akuntansi biaya tradisional.Pada saat ini PT Panca Mitra Sandang Indah menghitung harga pokok dan harga jual produk dengan menghitung semua biaya yang dikeluarkan dan dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan.
c)      PT MATAHARI ALKA

Perusahaan-perusahaan diatas merupakan contoh besar yang menunjukan masih belum optimalnya pengimplementasian ABC/ABM System di Indonesia. Tidak menutup kemuungkinan pasti ada beberapa perusahan di Indonesia yang telah menggunakan metoide ABM ataupun ABC ini, akan tetapi mayoritas masih banyak perusahaan yang belum menggunakan metode ini, dan intinya pengimplementasian terhadap ABC/ABM Sistem di Indonesia masih sangat kurang serta optimal.


BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya dapat kita pahami bahwa betapa pentingnya metode ABC maupun ABM. Metode ini merupakan solusi yang tepat bagi perusahaan untuk menghadapi berbagai tuntutan saat ini. dan seperti yang diketahui bahwa metode ini merupakan salah satu solisi yang dibuat untuk mengatasi berbagai kelemahan metode tradisional yang selama ini selalu digunakan banyak perushaaan.
Pengimplementasian metode ABC maupun ABM system pada saat ini belumlah terlalu optimal, termasuk didalamnya itu adalah Negara Indonesia. Mayoritas perusahaan di Indonesia belum mengimplementasikan metode ini. Hal ini dilihat berdasarkan data yang diperoleh, kebanyakan perusahaan di Indonesia masih menggunakan metode yang tradisional.

2.      Saran
1)      Lebih baik di pemerintah melakuka banyak pendekatan dan sosialiasi kepada perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk mengimplementasikan AC maupun ABM System, mengingat betapa bagusnya pengggunaan metode ini
2)      Perusahaan-perusahaan di Indonesia alangkah baiknya dapat menggunakan metode yang tepat dalam melakukan perhitungan biaya produksi dalam perusahaannya.



1 komentar: