Sharing Materi Perkuliahan Sarjana dan Pascasarjana: Mengenai materi Akuntansi, Ekonomi, Sistem Informasi, Teknik Informatika, Informasi Teknologi dan Pengetahuan Umum

Breaking

Sabtu, 28 Februari 2015

Abu Bakar Ash Shiddiq Sang Penyelamat Islam Pertama

By Briyan Efflin Syahputra


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dewasa ini, sosok kepemimpinan yang baik sangat sulit kita temukan. Generasi muda sekarang selalu dihadapkan dengan tipe kepemimpinan yang sangat tidak layak untuk dicontoh. Hal ini juga terjadi di Indonesia, pada saat ini mayoritas pemimpin-pemimpin bangsa kita masih dipertanyakan apakah layak mereka disebut sebagai pemimpin yang baik dan pemimpin sekarang mengalami krisis moral. Pemikiran ini muncul bukan berdasarkan tanpa sebab, dapat dilihat pada saat ini mayoritas pemimpin di Indonesia masih sangat jauh dari sosok pemimpin yang ideal.

Sebagai umat muslim, seorang pemimpin yang ideal adalah seorang pemimpin yang bersifat/berprilaku sesuai dengan Al-Quran, Hadist, serta keteladanan Rasulullah dan para sahabat. Salah satu sahabat yang dapat dicontoh mengenai tipe kepemimpinan yang ideal adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Abu Bakar merupakan khalifah pertama setelah wafatnya Rasulullah, yang memimpin umat Islam ketika Rasulullah wafat. Beliau merupakan tipe pemimpin yang tegas, yang mana semua perbuatan dan kebijakannya selalu berlandaskan dengan ajaran Islam. Tipe kepemimpinan seperti Abu Bakar merupakan salah satu kepemimpinan yang sangat baik untuk diikuti oleh generasi muda sekarang.
Berdasarkan pemikiran diatas, maka disusunlah makalah ini. Makalah ini disusun untuk membahas berbagai informasi mengenai kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama. Diharapkan dengan adanya pembahasan dalam makalah ini, pembaca dapat memahami dengan baik bagaimana kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan dapat  menajdi inspirasi dan panutan bagaimana tipe kepemimpinan yag ideal.
  
B.     Rumusan Masalah
1.      Seperti apa biografi hidup Abu Bakar Ash-Shiddiq?
2.      Bagaimanakah hubungan antara Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan Nabi Muhammad SAW?
3.      Bagaimana proses pengangakatan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama              setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW?
4.      Seperti apakah masa kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai sang penyelamat         Islam pertama sampai beliau wafat?

C.    Tujuan
1.      Memberikan informasi kepada pembaca mengenai sekilas mengenai biografi Abu                Bakar ash-Shiddiq.
2.      Pembaca memahami dengan baik hubungan antara Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan              Nabi Muhammad SAW.
3.      Pembaca memahami bagaimana proses pengangkatan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai          khalifah pertama.
4.      Memberikan pengertahuan lebih kepada pembaca mengenai bagaimana masa                   kepemimpinan Abu Bakar sebagai sang penyelamat Islam pertama sampai beliau               wafat.

D.    Manfaat
1.      Pembaca mendapat informasi mengenai sekilas mengenai biografi Abu Bakar Ash-              Shiddiq.
2.      Pembaca dapat paham dengan baik bagaimana hubungan antara Abu Bakar Ash-               Shiddiq dengan Nabi Muhammad SAW.
3.    Pembaca dapat paham bagaimana proses pengangkatan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai       khalifah pertama.
4.    Pembaca mendapat informasi lebih tentang masa kepemimpinan Abu Bakar Ash-                 Shiddiq sebagai sang penyelamat Islam pertama sampai beliau wafat.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Abu Bakar Ash-Shiddiq
Abu Bakar Ash-Shiddiq dilahirkan di Mekkah dari keturunan Bani Tamim (Attamimi), suku bangsa Quraish. Beliau lahir pada tahun 573 M, dan wafat pada tanggal 23 Jumadil akhir tahun 13 H bertepatan dengan bulan Agustus 634 M, dalam usianya 63 tahun, usianya lebih muda dari Nabi SAW 3 tahun. Abu Bakar adalah seorang pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi, seorang yang terpelajar serta dipercayai sebagai orang yang mampu menafsirkan mimpi. Ia memiliki nama asli Abdullah ibn Abi Qahafah. Ayah Abu Bakar bernama Abu Qahafah yang semula bernama Utsman ibn Amir sedangkan ibunya bernama Ummu Al-Khair yag semula bernama Salma Binti Sakhr ibn Amir. Sebelum masuk Islam Abu bakar bernama Abdul Ka’bah, kemudian setelah masuk Islam diganti oleh Rasulullah menjadi Abdullah. Dijuluki Abu Bakar karena dari pagi-pagi betul (orang yang paling awal) memeluk Islam. Gelar Ash-Shiddiq diperolehnya karena ia dengan segera membenarkan nabi dalam berbagai peristiwa, terutama dalam Isra’ dan Mi’raj. Seringkali mendampingi Rasulullah disaat-saat penting atau jika berhalangan, Rasulullah mempercayainya sebagai pengganti untuk menangani tugas-tugas keagamaan dan atau mengurusi persoalan-persoalan aktual di Madinah. Pilihan umat terhadap tokoh ini sangatlah tepat.
Pertemuan antara Rasulullah dan Abu Bakar terjadi ketika Rasulullah menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, dan beliau pindah dan hidup dengan istrinya. Pada saat itu Rasulullah menjadi tetangga Abu Bakar. Sejak saat itu mereka berkenalan satu sama lainnya. Mereka berdua berusia sama, pedagang dan ahli berdagang.

B.     Hubungan Abu Bakar Shiddiq dengan Nabi Muhammad SAW
Tempat tinggal Abu Bakar terletak di daerah pemukiman pedagang Quraisy yang kaya. Dari daerah itulah para pedagang Quraisy biasa mengirimkan barang dagangannya yang akan dijual di daerah Syam dan Yaman. Khadijah binti khuwailid yang kelak akan menjadi istri Nabi SAW juga tinggal di daerah tersebut. Karena tempat tinggal mereka berdekatan Abu Bakar menjalin persahabatan dengan Muhammad SAW setelah beliau menikah dengan khadijah dan menempati rumah istrinya itu. Usianya lebih muda dari usia Muhammad SAW, sekitar dua tahun lebih beberrapa bulan. Barangkali karena kesetaraan usia dan usaha dagangnya, Abu Bakar lebih memiliki keserasian dalam hal akhlak dan ketenangan jiwa dengan Rasulullah SAW. Demikian pula dengan keinginannya untuk meninggalkan adat-istiadat dan kepercayaan suku Quraisy.
Diajaknya Abu Bakar untuk mengikuti agama Allah SWT yang Mahatunggal dan Mahakuasa. Tanpa berpikir panjang Abu Bakar langsung menerima ajakan Muhammad SAW itu. Hatinya tidak pernah ragu menerima seruan sahabatnya.Sejak saat itulah jalinan hubungan antara keduanya mulai berjalan erat.Persahabatan itu bertambah kokoh karena kesungguhan dan kejujuran Abu Bakar dalam memegang keimanan kepada Muhammad SAW beserta Risalah yang dibawanya.
Karena pergaulannya yang luas ditambah dengan keramah-tamahannya, Abu Bakar mampu mengajak orang lain untuk mengikuti jejaknya untuk memeluk agama Allah SWT, Berkat ajakannya beberapa orang kemudian masuk islam. Mereka antara lain adalah Abdurrahman ibn Auf, Utsman ibn Affan, Thalhah ibn Ubaidillah, Sa’ad ibn Abi Waqqash dan Zubair ibn Awwam.

C.    Pengangkatan Abu Bajar Ash-Shiddiq Sebagai Khalifah Pertama
Permasalahan  yang pertama kali muncul sepeninggal Rasulullah adalah ketika siapakah yang akan menggantikan beliau. Rasullulah selalu mengajarkan kepada umatnya agar selalu mengutamakan “musyawarah” dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada, termasuk dalam menentukan siapakah yang berhak menggantikan posisi Rasulullah. Ketika sepeninggal Rasulullah, muncul permasalahan, siapakan yang berhak mengganti beliau. Ketika Rasulullah wafat, ketika para sahabat yang sedang sibuk dalam mengurusi jenazahnya, tiba-tiba Abu Bakar dan Umar langsung meninggalkan tempat duka menuju ke Muktamar Tsaqifah Bani Sa’idah. Hal ini mereka lakukan karena pada waktu yang sama telah terjadi perdebatan yang membahas tentang siapakah yang layak untuk menjadi pengganti Rasulullah. Pada saat perdebatan yang hampir menyebabkan perpecahan ini, akhirnya Abu Bakar yang terpilih untuk memangku jabatan khalifah pertama berdasarkan pilihan yang bersifat sangat demokratis, dan telah memenuhi tata cara perundingan yang dikenal dunia modern saat ini. Kaum Anshar menekankan pada persyaratan jasa (merit), dan mereka mengajukan Sa’ad ibn Ubadah sebagai pengganti Rasullulah. Kaum Muhajirin menekankan pada persyaratan kesetiaan, dan mereka mencalonkan Abu Ubaidah ibn Jarrah. Sedangkan Ahlul Bait menginginkan Ali ibn Abi Thalib untuk menjadi khalifah atas kedudukannya dalam islam, juga sebagai menantu dan karib Nabi. Ketika terjadinya perdebatan yang sangat panjang mengenai siapa yang akan menggantikan Rasulullah sebagai Khalifah pertama, Abu Bakar langsung berpidato di hadapan para sahabat yang ada disana dengan alasan hadis Nabi: al-Ayimmatu min Quraisy (Kepemimpinan dalam Islam adalah dari kalangan Quraisy), serta dengan berbagai pertimbangan lainnya serta perdebatan yang panjang, akhirnya Abu Bakar dipilih untuk menjadi khalifah. Sehingga perdebatan itu selesai dengan damai.

D.    Abu Bakar Ash-Shiddiq Sang Penyelamat Islam Pertama
Abu Bakar memangku jabatan sebagai khalifah pertama selama dua tahun lebih sedikit yang dihabiskannya terutama untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul didalam negeri akibat wafatnya Rasulullah. Terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah yang pertama membagun kembali kesadaran dan tekat umat untuk selalu bersatu dalam melanjutkan tugas mulia Nabi. Ia menyadari bahwa kekuatan kepemimpinannya bertumpu pada komunitas yang bersatu.
Abu Bakar disebut sebagai penyelamat Islam pertama, karena setelah wafatnya Rasulullah dialah yang telah dipercaya oleh para sahabat untuk menjadi khafilah pertama. Bukan hal ini saja, walaupun dengan masa kepemimpinan hanya dua tahun lebih, banyak sekali hal-hal yang dilakukannya untuk melanjutkan tugas-tugas mulia Rasulullah, apalagi sepeningal Rasulullah banyak sekali muncul masalah-masalah diantara masyarakat Arab yang dapat membuat Islam terpecah belah dan mengarah pada kesesatan, seperti penduduk Mekah yang bersiap-siap menjadi Murtad, munculnya nabi-nabi palsu, dan sebagainya.  Berikut beberapa hal yang dilakukan Abu Bakar selama kepemimpinannya, sekaligus sebagai penyelamat Islam pertama setelah wafatnya Rasulullah, antara lain:

·         Pengiriman pasukan Usamah
Perintah pertama yang dikeluarkan setekah selesai pelantikan Abu bakar sebagai Khalifah adalah: “teruskan pengiriman pasukan Usamah”. Usamah ialah pemimpin pasukan yang diperintahkan Nabi persiapannya dari pemuka-pemuka Muhajirin dan Anshar untuk menghadapi Rumawi, setelah terjadinya bentrok antara keduanya di Mu’tah dan Tabuk, Rasulullah selalu khawatir pihak Rumawi akan menyerbu Muslimin sebagai akibat pertentangan antara agama yang baru muncul ini dengan mereka yang beragama Nasrani.
Sepeninggal Rasulullah, Abu Bakar sangat yakin untuk melanjutkan pengiriman pasukan ini, hal ini dikarenakan untuk membalas pembunuhan ayahnya, Zaid, dan kerugian yang diderita oleh umat islam dalam perang Mu’tah. Hal ini juga dikarenakan keyakinan dan kecintaan beliau terhadap Rasulullah. Ia berkata: “ Demi nyawa Abu Bakar, sekiranya serigala akan menerkamku, niscaya akan kuteruskan pengiriman pasukan Usamah seperti apa yang telah diperintahkan Nabi saw. Walaupun sebagian besar sahabat menentang keras akan rencana ini, tetapi Khalifah tidak peduli karena dia yakin atas keputusan yang telah dibuatnya. Nyatanya ekspedisi itu sukses dan membawa pengaruh positif bagi umat Islam, khususnya didalam membangkitkan kepercayaan diri mereka yang nyaris pudar.

·         Memberantas Pembangkang Zakat
Sementara Usamah sedang dalam perjalanan menuju perbatasan Rumawi, berita yang tersiar bahwa Nabi telah wafat mendorong orang-orang Arab di luaran memberontak terhadap kekuasaan Medinah. Hal yang menjadi lebih parah lagi adalah Musailimah dari Banu Hanifah dan Tulaihah dari Banu  Asad kemudian mendakwakan diri sebagai Nabi dan mengajak banyak orang untuk mempercayai kenabiannya. Seruan mereka tersebut berhasil, sehingga orag semacam Uyainah bin Hisn percaya akan kenabian palsu ini. hal-hal tersebut merupakan tanda-tanda mulai adanya penyimpangan dan pembangkangan yang terjadi. Tidak hanya permalahan itu yang terjadi, orang-orang yang masih percaya dengan kebenaran Islam, ternyata banyak diantara mereka enggan untuk menyara zakat kepada Abu Bakar. Hal ini sebenarnya terjadi karena memang mereka kikir, serta adanya anggapan mereka pembayarn itu seperti upeti yang sudah tak berlaku lagi sesudah Rasulullah wafat, dan boleh mereka bayarkan kepada siapa saja yang mereka pilih sendiri sebagai pemimpinnya di Madinah. Abu Bakar tentunya telah menyiapkan banyak strategi untuk menyadarkan para pembangkang ini. Abu Bakar memiliki firasat bahwa bahwa kaum pembangkang ini akan menyerang Madinah, hal ini disebabkan gencarnya pembangkang ini mengajak orang-orang muslim di Madinah agar tetap memeluk Islam, tetapi tidak perlu mebayar zakat. Ternyata firasatnya benar, akan tetapi Abu Bakar telah menyiapkan strategi untuk menghadapi penyerangan ini, sehingga kaum pembangkang tersebut kalah, dan membuat para kaum/kabilah-kabilah tersebut kembali sadar dan cepat-cepat menunaikan zakat kepada Khalifah Rasulullah setelah kemenangannya.

·         Memberantas Riddah
Sepeninggal Rasulullah, banyak masyakat Arb melakukan Riddah. Riddah merupakan gerakan pengingkaran terhadap Islam. Riddah berarti Murtad, beralih agama dari Islam ke kepercayaan semula, secara politis merupakan pembangkangan terhadap lembaga khalifah. Sikap mereka adalah perbuatan maker yang melawan agama dan pemerintah sekaligus.
Oleh karena itu, khalifah dengan tegas melancarkan operasi pembersihan terhadp mereka. Mula-mula hal itu dimaksudkan sebagai tekanan untuk mengajak mereka kembali kejalan yang benar, lalu berkembang menjadi perang untuk merebut kemenangan. Tindakan ini juga untuk dilakukan untuk menumpas nabi-nabi palsu dan orang-orang yang enggan membayar zakat.

·         Pengumpulan Al-Quran
Penumpasan terhadap orang-orang murtad dan para pembangkang tersebut  terutama setelah mendapat dukungan dari suku Gatafan yang kuat ternyata banyak menyita konsentrasi Khalifah, baik secara moral maupun politik. Situasi keamanan Negara Madinah menjadi kacau sehingga banyak sahabat, tidak terkecuali Umar yang dikenal keras menganjurkan bahwa dalam keadaan yang sangat kritis lebih baik jika mengikuti kebijakan yang lunak. Terhadap ini khalifah menawab dengan marah: “kalian begitu keras di jaman Jahiliah, tetapi sekarang setelah Islam, kalian menjadi lemah. Wahyu-wahyu Allah telah berhenti dan agama kita telah memperoleh kesempurnaan. Kini haruskah Islam dibiarkan rusak dalam masa hidupku? Demi Allah, seandainya mereka menahan sehelai benang pun (dari zakat) saya akan memerintahkan untuk memerangi mereka.”
Dalam memerangi kaum Murtad ini, dari kalangan kaum muslimin banyak hafizh (penghafal Al-Quran) yang tewas. Dikarenakan merupakan penghafal bagian-bagian Al-Quran, Umar cemas jika angka kematian tersebut bertambah, yang berarti beberapa bagian lagi dari Al-Quran akan musnah. Oleh karena itu ia menasehati Abu Bakar untuk membuat suatu “kumpulan” Al-Quran. Mulanya Khalifah agak ragu untuk melakukan tugas ini karena tidak menerima otoritas dari nabi, tetapi kemudian ia memberikan persetujuan da menugaskan Zaid bin Tsabit. Menurut Jalaluddin As-Suyuti bahwa pengumpulan Al-Quran ini merupakan salah satu jasa besar dari khalifah Abu Bakar.
Peperangan melawan para pengacau tersebut meneguhkan kembali khalifah Abu Bakar sebagai “Penyelamat Islam”, yang berhasil menyelamatkan Islam dari kekacauan dan kehancuran, da membuat agama itu kembali memperoleh kesetiaan dari seluruh Jazirah Arab.

·         Perluasan Kedaulatan Islam
Sesudah memulihkan ketertiban di dalam negeri, Abu Bakar lalu mengalihkan perhatiannya untuk memperkuat perbatasan dengan wilayah Persia dan Bizantium, yag akhirnya menjurus kepada serangkaian peperangan melawan kedua kekaisaran itu.
Tentara islam dibawah pimpinan Musanna dan Khalid bin Walid dikirim ke Irak dan Menaklukan Hirah. Sedangkan ke Syiria, suatu Negara di Arab yang dikuasai Romawi Timur (Bizantium), Abu bakar mengutus empat panglima, yaitu Abu Ubaidah, Yazid bin Abi Sufyan, Amir bin Ash, dan Syuhrabil. Ekspedisi ke Syiria ini memangsangat besar artinya bagi dalam konstalasi politik umat Islam karena daerah protektorat itu merupakan front terdepan wilayah kekuasaan Islam dengan Romawi Timur. Dengan bergolaknya tanah Arab pada saat menjelang dan sesudah wafatnya nabi, impian bangsa bangsa Romawi untuk menghancurkan dan menguasai agama Islam hidup kembali. Mereka menyokong sepenuhnya pergolakan itu serta melindungi orang-orang yang berani berbuat maker terhadap pemerintahan Madinah. Dalam peristiwa Mu’tah, bangsa Romawi bersekongkol dengan suku-suku Arab pedalaman (Badui) dan orang Persia memberikan dukungan yang aktif untuk melawan kaum muslimin
Faktor penting lainnya dari pengiriman pasukan besar-besaran ke Syiria ini sehingga empat panglima sekaligus adalah karena umat Islam Arab memandang Syiria sebagai bagian integral dari semenanjung Arab. Negeri itu didiami oleh suku bangsa Arab yag berbicara menggunakan bahasa Arab. Dengan demikian, baik untuk keamanan umat islam (Arab) maupun untuk pertalian nasional dengan orang-orang Syiria adalah sangat penting bagi kaum muslimin (Arab). Ketika pasukan Islam dengan mengancam Palestina, Irak dan kerajaan Hirah, dan telah meraih beberapa kemenangan yang dapat memberikan kepada mereka beberapa kemungkinan besar bagi keberhasilan selanjutnya

E.     Wafatnya Abu Bakar Shiddiq
Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, Ia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Sebelum beliau wafat, sakit beliau berlangsung selama 16 hari dan  Abu Bakar meninggal dunia pada hari Senin, tanggal 22 Jumadil Akhir 13 H atau 23 Agustus 634 M. Setelah Abu Bakar wafat, secara resmi menggantikan beliau menjadi khalifah.


  
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Abu  Bakar Shiddiq adalah seorang pemimpin yang sangat layak untuk dicontoh sebagai pemimpin yang ideal. Beliau adakah seorang pemimpin yang sangat tegas, adil dan bijaksana, serta tentunya semua yang dilakukannya sebagai seorang pemimpin selalu berlandaskan atas ajaran Islam. Dalam kepemimpinannya sebagai khalifah Abu Bakar sangat banyak dihadapkan dengan permasalahan yang sangat rumit, yang selalu dapat menyebabkan Islam terpecah belah. Permasalahan yang selalu dihadapinya selalu dapat dia selesaikan dengan baik, dia memang sangat pantas dianggap sebagai sangat penyelamat Islam pertama. Pemikiran ini tentunya tidak muncul tanpa alasan dan bukti. Banyak prestasi yang dilakukannya untuk Islam, sehingga Islam yang awalnya hampir di ambang kehancuran sepeninggal Rasulullah dapat ia persatukan kembali.

B.     Saran
  • Pembaca agar mampu memahami dengan baik riwayat hidup Abu Bakar Ash-Shiddiq, karena banyak sekali manfaat yang akan kita peroleh.
  • Pembaca dapat menjadi Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai salah satu tipe kepemimpinan Islam yang patut untuk dicontoh.
  • Pembaca dapat memaknai dengan baik setiap amal dan perbuatan yang telah dilakukan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar