Sharing Materi Perkuliahan Sarjana dan Pascasarjana yang ditulis secara pribadi atas tugas kuliah: Mengenai materi Akuntansi, Ekonomi, Sistem Informasi, Teknik Informatika, Informasi Teknologi dan Pengetahuan Umum

Jumat, 28 April 2017

Pendekatan Pengambilan Keputusan, Pendekatan Pengambilan Keputusan Etis, Pendekatan Filososfi, Analisis Biaya Manfaat, Pengukuran Biaya dan Manfaat


Oleh : Yovi Citra Nengsih
1. PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
      Keputusan adalah pilihan-pilihan dari dua alternative atau lebih. Sebagai contoh, manajer puncak bertugas menentukan tujuan-tujuan organisasi, produk, atau jasa yang ditawarkan. cara terbaik untuk membiayai berbagai operasi, produk atau jasa yang menempatkan pabrik manufaktur yang baru. Keputusan biasa nya diambil ketika terjadi masalah, untuk mengatasi masalah yang terjadi dalam suatu organisasi atau dalam perusahaan diperlukan suatu kebijakan dalam pengambilan keputusan yang baik dalam menentukan strategi, sehingga menimbulkan pemikiran tentang cara-cara baru untuk melanjutkannya.
pengambilan keputusan ini adalah sesuatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi, dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat. Pengambilan keputusan yang dilakukan biasanya memiliki beberapa tujuan, seperti tujuan yang bersifat tunggal (hanya satu masalah dan tidak berkaitan dengan masalah lain) dan tujuan yang bersifat ganda (masalah saling berkaitan, dapat bersifat kontradiktif ataupun tidak kontradiktif)
Seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dihadapkan pada dilema etika dan moral. Keputusan yang diambil pemimpin tentunya akan menghasilkan dampak bagi orang lain. Idealnya, seorang pemimpin mempunyai integritas yang menjunjung tinggi nilai moral dan etika. Sehingga, keputusan yang diambilnya adalah mengacu tidak hanya pada kepentingannya sendiri, melainkan juga kepentingan orang banyak termasuk lingkungannya. Istilah etika berasal dari bahasa Yunani yaitu “ethos” yang berarti watak atau kebiasaan. Dalam bahasa sehari-hari kita sering kita sering menyebutnya etiket yang berarti cara bergaul atau berperilaku yang baik yang sering juga disebut sebagai sopan-santun
Proses pengambilan keputusan adalah bagaimana perilaku dan pola komunikasi manusia sebagai individu dan sebagai anggota kelompok dalam struktur organisasi. Tidak ada pembahasan kontemporer pengambilan keputusan akan lengkap tanpa dimasukkannya etika. Mengapa? Karena pertimbangan etis seharusnya merupakan suatu kriteria yang penting dalam pengambilan keputusan, maka dari itu pada penyusunan makalah ini akan dibahas tentang  pendekatan pengambilan keputusan etis diaman teridiri dari analisis biaya manfaat dan analisis etis untuk pemecahan masalah.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah adalah sebagai berikut;
a.       Apa itu etika dan pengambilan keputusan
b.      Bagaimanakah Pendekatan-pendekatan dalam  pengambilan keputusan yang etis,
c.       Apa itu analisis biaya manfaat,
d.      Bagaimanakah analisis etis untuk pemecahan masalah.

1.3.Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah membahas, mengetahui serta memahami;
a.       Etika pengambilan keputusan,
b.      Pendekatan-pendekatan  pengambilan keputusan
c.       Analisis biaya manfaat,
d.      Analisis untuk pemecahan masalah

II. METODE PENULISAN
Makalah ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu mendeskripsikan, menguraikan, dan memberikan gambaran tentang pendekatan pendekatan dalam pengambilan keputusan yang etis. Dari gambaran tersebut ditarik kesimpulan bagaimana agar seorang individu dapat mengambil keputusan yang etis dengan menggunakan beberapa analisis, yaitu analisis biaya manfaat dan analisis etis untuk pemecahan masalah.
III. ANALISIS
3.1.Etika dan Pengambilan Keputusan
3.1.1.      Etika
  Seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dihadapkan pada dilema etika dan moral. Keputusan yang diambil pemimpin tentunya akan menghasilkan dampak bagi orang lain. Idealnya, seorang pemimpin mempunyai integritas yang menjunjung tinggi nilai moral dan etika. Sehingga, keputusan yang diambilnya adalah mengacu tidak hanya pada kepentingannya sendiri, melainkan juga kepentingan orang banyak termasuk lingkungannya. Istilah etika berasal dari bahasa Yunani yaitu “ethos” yang berarti watak atau kebiasaan. Dalam bahasa sehari-hari kita sering menyebutnya etiket yang berarti cara bergaul atau berperilaku yang baik yang sering juga disebut sebagai sopan-santun.
Istilah etika banyak dikembangkan dalam organisasi sebagai norma-norma yang mengatur dan mengukur perilaku professional seseorang.  Secara lengkap etika diartikan sebagai nilai-nilai normatif atau pola perilaku seseorang atau badan/lembaga/organisasi sebagai suatu bentuk yang dapat diterima umum dalam interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan dalam konteks lain secara luas dinyatakan bahwa etika adalah aplikasi dari proses dan teori filsafat moral terhadap kenyataan yang sebenarnya. Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.
3.1.2.  Pengambilan Keputusan
Para indivindu dalam organisasi membuat keputusan (decision) artinya mereka membuat pilihan-pilihan dari dua alternative atau lebih. Sebagai contoh, manajer puncak bertugas menentukan tujuan-tujuan organisasi, produk, atau jasa yang ditawarkan cara terbaik untuk membiayai berbagai operasi, produk atau jasa yang menempatkan pabrik manufaktur yang baru. Manajer tingkat menegah dan bawah menetukan jadwal produksi, menyeleksi karyawan baru, dan merumuskan bagaimana meningkatkan bayaran karyawan baru, dan merumuskan bagaimana meningkatkatkan bayaran karyawan. Karyawan nonmanajerial juga membuat keputusan yang mempengaruhi pekerjaan dan organisasi tempat mereka bekerja. Sedangkan pengambilan keputusan mengandung arti pemilihan alternatif terbaik dari sejumlah alternatif yang tersedia. Teori-teori pengambilan keputusan bersangkut paut dengan masalah bagaimana pilhan-pilhan semacam itu dibuat. Beberapa pengertian keputusan menurut beberapa tokoh (dhino ambargo:2) adalah sebagai berikut:
a)    Menurut Davis (1988) keputusan adalah hasil dari pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Hal ini berkaitan dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang harus dilakukan dan seterusnya mengenai unsur-unsur perencanaan. Keputuan dibuat untuk menghadapi masalah-masalah atau kesalahan yang terjadi terhadap rencana yang telah digariskan atau penyimpangan serius terhadap rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Tugas pengambilan keputusan tingkatnya sederajat dengan tugas pengambilan rencana dalam organisasi.
b)   Siagian (1996) menyatakan, pada hakikatnya pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap hakikat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data. Penentuan yang matang dari altenatif yang dihadapi dan pengambilan tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
Dari beberapa penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pengambilan keputusan ini adalah sesuatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi, dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat. Pengambilan keputusan yang dilakukan biasanya memiliki beberapa tujuan , seperti ; tujuan yang bersifat tunggal (hanya satu masalah dan tidak berkaitan dengan masalah lain) dan tujuan yang bersifat ganda (masalah saling berkaitan, dapat bersifat kontradiktif ataupun tidak kontradiktif). Seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dihadapkan pada dilema etika dan moral. Keputusan yang diambil pemimpin tentunya akan menghasilkan dampak bagi orang lain. Idealnya, seorang pemimpin mempunyai integritas yang menjunjung tinggi nilai moral dan etika. Sehingga, keputusan yang diambilnya adalah mengacu tidak hanya pada kepentingannya sendiri, melainkan juga kepentingan orang banyak termasuk lingkungannya. Maka ada baiknya sebelum kita mengambil keputusan, kita harus mengacu pada prinsip-prinsip berikut ini:
1)   Autonom
Isu ini berkaitan dengan apakah keputusan anda menimbulkan kerugian terhadap orang lain? Setiap keputusan yang Anda ambil tentunya akan mempengaruhi banyak orang. Oleh karena itu, Anda perlu mempertimbangkan faktor ini ke dalam setiap proses pengambilan keputusan Anda. Misalnya keputusan untuk merekrut pekerja dengan biaya murah. Seringkali perusahaan mengeksploitasi buruh dengan biaya semurah mungkin padahal sesungguhnya upah tersebut tidak layak untuk hidup.
2)   Non-malfeasance
Apakah keputusan Anda akan mencederai pihak lain? Di kepemerintahan, nyaris setiap peraturan tentunya akan menguntungkan bagi satu pihak sementara itu mencederai bagi pihak lain. Begitu pula halnya dengan keputusan bisnis pada umumnya, dimana tentunya menguntungkan bagi beberapa pihak namun tidak bagi pihak lain.
3)        Beneficence
Merupakan keputusan harus dapat menjadi solusi bagi masalah dan merupakan solusi terbaik yang bisa diambil.
4)        Justice
Proses pengambilan keputusan mempertimbangkan faktor keadilan, dan termasuk implementasinya. Di dunia ini memang sulit untuk menciptakan keadilan yang sempurna namun tentunya kita selalu berusaha untuk menciptakan keadilan yang ideal dimana memperlakukan tiap orang dengan sejajar.
3.1.3.      Pendekatan Pengambilan Keputusan Etis
a.    Kerangka Kerja Pengambilan Keputusan Etis
Sebagai respons terhadap keputusan yang dapat dipertahankan secara etis, kerangka ini menyertakan persyaratan tradisional untuk profitabilitas dan legalitas. Serta persyaratan yang dapat ditampilkan filosofis secara penting dan baru-baru ini dituntut oleh pemangku kepentingan. Hal ini dirancang untuk meningkatkan pertimbangan etis dengan menyediakan:
a)    Pengetahuan dalam identifikasi dan menganalisis isu-isu penting yang harus dipertimbangkan dan pertanyaan atau tantangan yang harus diungkap;
b)   Pendekatan untuk menggabungkan dan menerapkan keputusan faktor yang relevan ke dalam tindakan praktis.
Kerangka kerja pengambilan keputusan etis (EDM) menilai etiskalitas keputusan atau tindakan yang dibuat dengan melihat:
a.    konsekuensi atau diciptakan offness baik dalam hal manfaat atau biaya,
b.    hak dan kewajiban yang terkena dampak,
c.    keadilan yang terlibat,
d.   motivasi atau kebajikan yang diharapkan.
Pertimbangan Pembuatan Keputusan Etis (EDM); Landasan Filosofis
Pertimbangan EDM
Kekayaan atau kesejahteraan
Menghormati hak para pemangku kepentingan
Kesetaraan diantara para pemangku kepentingan

Harapan untuk sifat karakter, kebajikan

Isu Tertentu Terkait dengan EDM
Perilaku yang berbeda dalam budaya yang berbeda (suap)
Konflik kepentingan, dan batas-batas untuk perilaku mementingkan diri sendiri
Teori Filosofi
Konsekuensialisme, utilitarianisme, teologi
Deontologi (hak dan kewajiban)
Imperatif kategoris kant, keadilan yang tidak memihak

Kebajikan

Relativisme, subjektivisme

Deontologi, subjektivisme, egoisme

b.   Pendekatan filosofi
1)   Konsekuensialisme, Utilitarianisme, atau Teleologi
Pelaku Konsekuensialisme sungguh-sungguh dalam memaksimalkan manfaat yang dihasilkan oleh keputusan. Paham ini berpegang pada prinsip bahwa suatu tindakan itu benar secara moral jika dan hanya jika tindakan itu memaksimalkan manfaat bersih. Dengan kata lain, suatu tindakan dan juga keputusan disebut etis jika konsekuensi yang menguntungkan lebih besar daripada konsekuensi yang merugikan. Utilitarianisme klasik berkaitan dengan utilitas keseluruhan, mencakup keseluruhan varian, oleh karena itu hanya dari manfaat parsial dalam pengambilan keputusan etis dalam konteks bisnis, profesional dan organisasi. Konsekuensialisme dan utilitarianisme berfokus pada hasil atau akhir dari tindakan, maka disebut juga teleological.
Menurut AACSB Pendekatan konsekuensialisme mengharuskan  untuk menganalisis keputusan dalam hal kerugian dan manfaatnya bagi pemangku kepentingan dan untuk mencapai sebuah keputusan yang menghasilkan kebaikan dalam jumlah besar. Konsekuensialisme berpendapat bahawa sebuah perbuatan benar secara moral jika dan hanya jika tindakan tersebut mampu memaksimalkan kebaikan bersih. Dengan kata lain, tindakan dan sebuah keputusan akan menjadi etis jika konsekuensi positif lebih besar daripada konsekunsi negatifnya.
2)        Deontologi
Berbeda dengan konsekuensialisme, deontologi berfokus pada kewajiban dan tanggung jawab yang memotivasi suatu keputusan atau tindakan dan bukan pada konsekuensi dari tindakan. Tindakan yang didasarkan pada pertimbangan kewajiban, hak, dan keadilan sangat penting bagi professional, direktur, dan eksekutif yang diharapkan memenuhi kewajibannya. Menambah konsekuensialisme dengan analisis deontologi secara khusus termasuk perlakuan yang adil akan menjaga terhadap situasi dimana untuk kepentingan apa pertimbangan konsekuensi yang menguntungkan akan diperbolehkan untuk membenarkan tindakan ilegal atau tidak etis dalam mencapai tujuan.
3)        Virtue Ethics (Etika Kebajikan)
Kalau kedua pendekatan tadi menekankan pada konsekuensi dari tindakan atau tanggung jawab, hak dan prinsip-prinsip sebagai panduan untuk membenarkan kebiasaan moral, etika kebajikan berkaitan dengan aspek motivasi dari karakter moral yang ditunjukkan oleh pengambil keputusan. Kebajikan adalah karakter yang membuat orang bertindak etis dan membuat orang tersebut menjadi manusia yang bermoral. Menurut AACSB etika kebajikan berfokus pada karakter atau integrasi moral para pelaku dan melihat pada moral masyarakat, seperti masyarakat profesional, untuk membantu mengidentifikas isu-isu etis dan panduan tindakan etis.
Pendekatan dan Kriteria Pembuatan Keputusan Etis
3.2.  Analisis Biaya Manfaat
Manajemen perusahaan makin meningkatkan kesadarannya bahwa keputusan bisnis sering kali memiliki dampak yang tidak dapat diukur dengan mudah menggunakan analisis akuntansi tradisional. Pemerintah dan kelompok-kelompok kepentingan khusus dengan cepat menunjukkan bahwa banyak biaya yang dihasilkan dari keputusan bisnis tidak tercermin dalam (atau yang diluar) laporan perusahaan. Polusi kerusakan misalnya harus ditanggung oleh pihak lain, bukan oleh perusahaan yang menyebabkan masalah. Dapat dimengerti, jika kemudian, eksekutif perusahaan mencari teknik analisis yang memperhitungkan biaya dan manfaat eksternal tersebut ketika mereka berunding tentang kebijakan perusahaan. Tak pelak lagi mereka meminta kepada akuntan mereka untuk mengembangkan analisis biaya-manfaat yang diperlukan untuk melengkapi proyek tingkat pengembalian yang biasa dilakukan. Analisis biaya-manfaat (ABM) dapat digunakan untuk:
a.                   Menentukan proyek apa yang harus dilakukan
b.                  Untuk memantau kinerja sebuah perusahaan atau proyek
Penggunaan analis biaya manfaat, dibagi menjadi 2 yakni:
1)        Organisasi sektor swasta
·      dukungan untuk subsidi pemerintah, hibah atau tarif.
·      Perkiraan dampak pencemaran terhadap masyarakat
·      Penilaian waktu karyawan yang dihabiskan untuk kegiatan publikEvaluasi alokasi sumber daya untuk proyek-proyek atau kampanye kepentingan umum
·      Dukungan untuk klaim kerusakan yang timbul dari hilangnya nyawa, mata, tungkai dan lain-lain.
·      Perhitungan waktu luang.
2)   Organisasi sektor publik
Evaluasi alternative program social mengarah pada alokasi sumber daya untuk:
·       Program kesehatan
·       Program pendidikan
·       Fasilitas rekreasi
·       Proyek konservasi
·       Proyek-proyek perbaikan transportasi
·       Perumusan peraturan untuk pengendalian polusi
3.2.1.      Kekurangan Data Akuntansi Tradisional
Adapun kekurangan data  akuntansi tradisional jika dibandingkan dengan analisis biaya manfaat memiliki kelemahan yaitu
1)        Hal ini berfokus pada tindakan masa lalu, yang tidak relefan untuk tindakan masa depan dalam pengambilan keputusan.
2)        Tidak memperhitungkan faktor-faktor eksternal.
3)        Mempertimbangkan beberapa sumber daya sebagai sumber daya bebas atau tanpa biaya.
4)        Fokusnya jauh lebih sempit, selalu berhubungan dengan kepentingan pemegang saham, bukan kepentingan pemangku kepentingan (atau masyarakat).
3.2.2.      Teknik Analisis Biaya-Manfaat
Daripada menggunakan keterangan normal seperti, pendapatan, beban, dan laba bersih, terminology yang dipakai dalam ABM adalah keuntungan, biaya, dan kelebihan manfaat atas biaya. Konsep ABM tentang manfaat dan biaya lebih luas dari pendapatan dan biaya, karena meraka memperhitungkan nilai-nilai eksternal masa depan sampai sekarang. Proyek harus dilakukan jika manfaatnya melebihi biaya atau rasio keuntungan/ biaya lebih besar dari satu.

3.2.3.      Tingkat Diskon
Uang yang digunakan untuk membiayai proyek menjadi tertahan untuk kegunaan lain. Dengan demikian, biaya tersebut secara tepat diukur dengan menghitung biaya kesempatan yang dilewatkan, apakah itu adalah tingkat imbal marginal setelah pajak yang hilang dari investasi lain atau harga konsumen akan bersedia membayar penundaan konsumsi mereka. Hasil studi ABM biasanya didiskontokan pada tingkat marginal rata-rata tertimbang berdasarkan proyeksi sumber-sumber pembiayaan yang digunakan.

3.2.4.      Pengukuran Biaya Dan Manfaat
Meskipun terdapat masalah dalam memilih tingkat potongan yang tepat, ini merupakan masalah kecil dibandingkan dengan kesulitan untuk mengidentifikasi dan mengukur biaya tahunan masa depan dan keuntungan (itu sendiri). Sayangnya, banyak biaya dan manfaat tidak dapat ditentukan secara langsung, dan pengganti atau cara tidak langsung harus digunakan untuk memperkirakan nilai yang terlibat, meskipun diakui hampir tidak mungkin menangkap semua karakteristik dari niali pengganti.

3.2.5.      Kekurangan Dari Analisis Biaya Manfaat
Beberapa akuntan berpendapat bahwa anggaran biaya manfaat terlalu jauh dari misi tradisional mereka yang cukup bernilai untuk dipelajari akan tetapi argument ini tidak melihat kelanjutan dari anggaran biaya manfaat yang telah digunakan sebelum tahun 1844, keunggulan anggaran biaya manfaat dalam mengatur keputusan pemerintah. Selain itu kecenderungan yang jelas adalah bahwa tehnik anggaran biaya manfaat akan dipakai di sektor swasta untuk memberikan fokus dalam pengambilan keputusan program-progam perusahaan yang berdampak pada masyarakat.
            Akuntan secara tradisional telah mengasumsikan peran pokok dalam menyediakan data untuk keputusan di sektor swasta dan jika posisi ini harus dipertahankan itu adalah kepentingan terbaik akuntan untuk mengenal dengan baik tehnik ABM dan kekurangannya. Selain itu akuntan sering terlibat langsung dengan keputusan ABM di sektor public, mereka akan membuat keputusan yang kurang terampil atau untuk menantang proposal spesifik ABM secara efektif, kecuali mereka menyadari tehnik ABM yang relefan. Alasan kami menekankan pentingnya saran informasi akan menjadi lebih jelas ketika berbagai kekurangan dan keseriusan ABM dipahami. Kekurangan dapat dikelompokkan menjadi tiga katagori yaitu:
1)        Pilihan yang tersedia untuk yang mempersiapkannya (preparer).
2)        Kendala yang harus dipertimbangkan oleh preparer dan pengguna.
3)        Masalah yang tidak dapat diatasi oleh ABM.
            Adapun kendala-kendala yang harus dipertimbangkan oleh preparer dan pengguna ABM maka penting jika proyek-proyek saling terpisah satu sama lain. Jika sedang dipertimbangkan proyek bersama, maka analisis ABM harus mencakup semua aspek proyek. Selain itu proyek yang diterima memenuhi persyaratan hukum dan sesuai dengan administrasi. Kadang-kadang kendala anggaran dihapus dan pembuat keputusan diberitahu untuk menghabiskan anggaran yang telah ditetapkan tanpa memperhatikan biaya kesempatan dari uang yang dibelanjakan.
3.2.6.      Pilihan Yang Tersedia
Pilihan yang banyak dan jika tidak terlalu akurat, akan menjadi bias bagi ABM sampai di titik dimana keputusan yang tidak bijaksana akan dihasilkan. Ada metode yang bisa mencegah bias dan tidak masuk akal, tapi pengambil keputusan pertama kali harus memahami apa saja potensi masalahnya. Sangat penting bahwa biaya kesempatan yang akurat diperkirakan untuk uang yang dipergunakan untuk membiayai setiap proyek ABM. Bias dapat masuk ke dalam ABM melalui pilihan buruk sebagai pengganti dan metode yang digunakan untuk mengukur nilai-nilai masyarakat
3.2.7.      Kendala-Kendala
Sehubungan dengan kendala-kendala yang harus dipertimbangkan oleh preparer dan pengguna ABM, maka penting proyek-proyek saling terpisah satu sama lain, atau jika sedang dipertimbangkan proyek bersama, maka analisis ABM harus mencakup semua aspek proyek. Selain itu, proyek yang diterima memenuhi persyaratan hukum dan sesuai dengan administrasi.
Isu yang tidak terselesaikan pengambil keputusan ABM harus menyadari bahwa ada banyak isu yang tidak pernah dapat sepenuhnya diselesaikan dengan tehnik ABM. ABM tidak memperhitungkan masalah ekuitas, seperti kelayakan dari menghukum satu kelompok atas keuntungan kelompok lain. Abm disini untuk tetap dipakai, akuntansi tradisional tetap berharga, tetapi dalam masyarakat maju, organisasi harus menyadari dan memperhitungkan dampak eksternal mereka. Pemerintah sudah membuat pilihan social bagi kita semua berdasarkan analisis biaya manfaat. Oleh karena itu, akuntan disarankan untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang analisis biaya-manfaat beserta kekurangannya, atau jika tidak mereka akan kehilangan tempat mereka sebagai tangan kanan dari pengambil keputusan.
3.3.            Analisis Etika Untuk Pemecahan Masalah
Kebanyakan para pelaku bisnis mengambil keputusan berdasarkan kepentingan para pemilik atau para pemegang saham, pandangan ini merupakan pendekatan secara tradisional. Pendekatan secara tradisional ini dimodifikasi menjadi dua cara, pertama asumsi bahwa seluruh stakeholder hanya ingin meaksimalkan keutungan jangka pendek. Kedua, hak dan kewajiban dari beberapa kelompok non-shareholder seperti karyawan, konsumen atau klien, supplier, kreditor, tokoh masyarakat dan pemerintah memiliki kepentingan dari hasil keputusan yang dibuat dan juga tujuan dan perusahaan itu ikut dipertimbangan dalam pengambilan keputusan perusahaan.
Perusahaan yang modern saat ini sangat mempertimbangkan kelompok Shareholder dan kelompok diluar shareholder, kedua kelompk tersebut menjadi pembentuk dari sebuah stakeholder yang menjadi Company Respond. Jika kehilangan salah satu unsure stakeholder atau biasa disebut primary stakeholder. Hal tersebut dapat menyebabkan perusahaan tidak dapat berpotensi secara penuh, dan mungkin dapat menimbulkan kerugian pada perusahaan. 
Asumsi bahwa kelompok shareholder monolitik hanya tertarik pada keuntungan jangka panjang yang sedang mengalami modifikasi, disebabkan karena perusahaan yang modern mencari shareholders yang terdiri dari perorangan maupun institusi yang tertarik pada keuntungan jangka panjang dan bagaimana etika bisnis diterapkan.
Investor yang etis mengembangkan jarigan formal dan informal melalui kegiatan perusahaan mereka, mereka juga memutuskna bagaimana untuk memilih wakil-wakil mereka, serta bagaimana pendekatan ke direktur agar mereka memperhatikan dan tetap pada ruang lingkup atas perlindungan terhadap lingkungan. Mereka juga memberikan kompensasi dan nilai lebih terhadap kegiatan HAM pada suatu negara tertentu seperti Afrika Selatan.
3.3.1.      Kepentingan Yang Fundamental Dari Stakeholder 
Para decision maker menggabungkan kepentingan kelompok stakeholder dan menciptakaan tiga kepentingan yang mendasar, yaitu: Dapat menghasilkan keputusan yang dapat mengakomodir kepentingan mereka Suatu keputusan sebaiknya mempertimbangkan pendistribusian yang adil antara keuntungan dan beban.
Suatu keputusan hendaknya tidak bertentangan dengan hak-hak Stakeholder, termasuk hak dalam membuat keputusan:
a.         Well-offnes adalah Keputusan sebaiknya menghasilkan lebih banyak keuntungan daripada Biaya
b.        Fairness adalah Pendistribusian hendaknya mempertimbangkan keseimbangan antara keuntungan dan biaya.
c.         Right adalah Hasil keputusan hendaknya tidak bertentangan dengan hak Stakeholder.

3.3.2.      Pengukuran Pengaruh Yang Dapat Dikuantifisir
Keuntungan adalah kepentingan utama yang ingin didapat oleh para pemegang saham dan merupakan hal yang penting untuk mencerminkan ketahanan dan kesehatan suatu perusahaan. Pada waktu inflasi, keuntungan dapat merubah inventory di harga yang lebih tinggi. 
a)        Pengkajian Terhadap Pengaruh Yang Tidak Dapat Dikuantifisir
Keadilan bukan merupakan konsep yang absolut. hal ini merupakan petunjuk yang berasal dari suatu kejadian ekonomi yang berorientasi dalam mencari keuntungan dan biaya yang menjadi dasar dari keputusan tersebut. contohnya adalah keputusan untuk menaikan pajak lebih tinggi pada pendapatan tinggi, tetapi melihat secara adil sesuai dengan kapasitas mereka untuk membayar pajak. alasan dan perspektif diperlukan untuk menilai kewajaran dengan teliti
IV. KESIMPULAN
Keputusan yang diambil pemimpin tentunya akan menghasilkan dampak bagi orang lain. Idealnya, seorang pemimpin mempunyai integritas yang menjunjung tinggi nilai moral dan etika. Sehingga, keputusan yang diambilnya adalah mengacu tidak hanya pada kepentingannya sendiri, melainkan juga kepentingan orang banyak termasuk lingkungannya. Ada lima kriteria dalam mengambil keputusan yang etis, yaitu utilitarian, universalisme (duty), penekanan pada hak, penekanan pada keadilan, dan relativisme (self-interest).


DAFTAR PUSTAKA

Brooks, Leonard J. & Paul Dunn. 2011.Etika Bisnis dan Profesi: Untuk Direktur, Eksekutif, dan Akuntan. Edisi Kelima. Buku Satu. Terjemahan oleh Kanti Pertiwi Jakarta: Salemba Empat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar