Sharing Materi Perkuliahan Sarjana dan Pascasarjana: Mengenai materi Akuntansi, Ekonomi, Sistem Informasi, Teknik Informatika, Informasi Teknologi dan Pengetahuan Umum

Breaking

Senin, 08 Mei 2017

Paper, Pembahasan Technology Acceptance Model (TAM), Model Keberhasilan Sistem Informasi DeLone, Mclean, Kelebihan dan kekurangan TAM, Delon.

Oleh: Yovi Citra Nengsih
1.  PEMBAHASAN
1. TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM)
1.1. Sistem Informasi
Menurut Jogiyanto dalam buku “ Analisis dan Desain Sistem Informasi: Pendekatan Terstruktur Teori Dan Praktek Aplikasi Bisnis” (2005), bahwa sistem informasi adalah media perantara antara instrument fisik dan non fisik yang berkaitan dengan peran teknologi informasi terhadap manusia dalam membantu proses sarana komunikasi bisnis yang baik dan berperan dalam menghasilkan kinerja yang lebih produktif dalam sebuah organisasi.

1.2. Pengertian  Personal Computer (Pc)
Personal Computer (PC) secara bahasa berarti Komputer Pribadi dapat didefinisikan  sebagakomputer berskala  kecil yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengguna dibidang  teknologi  komputer (Echols,1998) Personal Computer  ini termasuk  kategorMicro  Computer (Komputer Mikro), dengan kapasitas  yang terbatas  dan  merupakan  salah  satu  perangkat koinputer yang dipersiapkan  secara paket (Computer Packages) untuk tujuan penggunaan secara umum ( Downing,1993)..
Personal Computer (PC) sebagai  salah  satu jenis komputer mikro {Micro Computer) juga  dideskripsikan oleh  para  ahli TI sebagai  komputer tipe  kecil untuk  penggunaan  penyelesaian   pekerjaan  skala  kecil  di  rumah  dan  kantor (Burstein, 1986)   dalam   Sarana   (2000).   Personal  Computer  di  tujukan  untuk pengguna  akhir  (end  user  Computing)  dengan  desain  Y.~ng sederhana  dan disesuaikan  dengan  kebutuhan  pengguna,    Berbeda  dengan  komputer  yang berskala besar (Mainframe Computer), PC ini lebih murah dan dapat dijangkau pengguna baik secara individual maupun secara kolektif (Luthans,1995) dalam Nurcahyati (2000).

1.3. Aspek  Keprilakuan   (Behavioral  aspect) dalam  Pengembangan
dan  Penerapan  Teknologi Informasi
Menurut  Bodnar  dan  Hopwood  (1995)  ada  tiga  hal  yang  berkaitan dengan penerapan TI berbasis komputer yaitu ;  
(a) Perangkat keras (hardware);
(b)  Perangkat  lunak  (software),  dan;  
(c)  Pengguna  (brainware).  
Ketiganya elemen  tersebut saling  berinteraksi dan  dihubungkan dengan suatu perangkat masukan keluaran (input-output media),  yang  sesuai dengan fungsinya masing- masing. Perangkat keras (Hardware) adalah media yang digunakan untuk memproses informasi. Perangkat lunak (software) yaitu sistem dan aplikasi yang digunakan   untuk   memproses   masukan   (input)   untuk   menjadi   informasi, sedangkan pengguna (brainware) merupakan hal yang terpenting    karena fungsinya sebagai, pengembang hardware dan software, serta sebagai pelaksanan (operator) masukan  (input) dan sekaligus penerima  keluaran (output) sebagai pengguna sistem  (user). Pengguna sistem adalah manusia  (man) yang secara psikologi memiliki suatu prilaku (behavior) tertentu yang melekat pada dirinya, sehingga aspek keprilakuan    dalam konteks manusia sebagai pengguna (brainware) TI menjadi penting sebagai faktor penentu pada setiap orang yang menjalakan TI.
Menurut   Syam  (1999) pertimbangan   perilaku   ini  perlu  mendapat perhatian khusus dalam konteks penerapan TL Pendapat ini sejalan dengan Sung (1987) dalam Trisna (1998) yang menyatakan bahwa faktor-faktor teknis, prilaku, situasi  dan personil  pengguna  TI perlu dipertimbangkan sebelum TI diimplementasikan. Henry (1986) dalam Trisnawati (1998) juga mengemukakan bahwa prilaku 'pengguna,  dan personal sistem diperlukan dalam pengembangan sistem, dan hal ini berkaitan dengan pemahaman dan cara pandang  pengguna sistem  tersebut.  Dengan  demikian  dapat  disimpulkan  bahwa  persepsi  para personil (orang-orang) yang terlibat  dalam  implementasi sistem akan berpengaruh pada akhir suatu sistem,  apakah sistem itu berhasil atau tidak, dapat diterima atau tidak, bermanfaat atau tidakjika  diterapkan.
Sri Astuti(2001)  berpendapat bahwa penggunaan teknologi informasi, pernanfaatan informasi  oleh  individual,   kelompok ·     atau organisasi merupakan variabel  inti  dalam riset  sistem informasi,  sebab sebelum digunakan pertama terlebih dahulu dipastikan tentang penerimaan atau penolakan di gunakannya TI tersebut,  ha] ini berkaitan  dengan perilaku yang ada pada individu/organisasi yang menggunakan teknologi  komputer.
Menurut Boodnar dan Hopwood (1995),  pengembangan TI memerlukan perencanaa da implementasi    yang  hati-hati   untuk   menghindari  adanya penolakan  terhadap  sistem  yang dikembangkan, dan  ini  sangat berhubungan dengan perubahan prilaku secara individual dalam melaksanakapekerjaannya. Lawrence  dan  Low  (1993)    dalam  Kusnadi  (2001);Nur    Indriantoro  (2000);
Jarvenva  dan  Tvees  (1991 memberikan  sebuah contoh  aspek partisipasi  dan keterlibatan pengguna sebagai salah satu perwujudan dari aspek keprilakuan yang penting   diperhatikan    untuk   menghindari   penolakan   (resistance) implementasi suatu sistem.
Hal  ini  sejalan  dengan  pendapat  Sabherwal  dan  Elam  (1995 yang menyatakan bahwa Penerapan TI menimbulkan problematik dari berbagai faktor dan diantaranya  adalah faktor prilaku.   Hasil penelitian yang dilakukan oleh Guimares dan Rarnanujam (1996), Lee (1986),  Strassman (1985) dalam Nur Indriantoro  (2000),  menemukan bahwa  penerapan TI  dalam  suatu organisasi mendorong terjadinya perubahan revolusioner terhadap prilaku individu dalam bekerja, dan dalam konteks penggunaan PC, kemungkinan seseorang mempunyai keyakinan bahwa penggunaan komputer akan memberikan manfaat bagi dirinya dan pekerjaannya (Nur Indriantoro,2000).
Berdasarka beberapa   uraian  teoritis    dan  hasi penelitian   empiri yang telah  di uraikan  diatas,  dapadi fahami  bahwa  aspek prilaku  dalam  penerapan  TI merupakan     salah    satu    aspek   yang    penting    untuk    di   perhatikan,     karena berhubungan   langsung  dengan  pengguna  (user), sebab interaksi antara pengguna dengan perangkat komputer yang di gunakan sangat di pengaruhi oleh persepsi, sikap, afeksi sebagai aspek keprilakuan yang melekat pada diri manusia sebagai userKesimpulan yang dapat ditarik dari uraian-uraian diatas adalah penerapan suatu sistem dan teknologi  informasi tidak terlepas daraspek prilaku karena pengembangan  sistem  terkait   dengan  masala individu  dan  organisasional sebagapengguna sistem  tersebut,  sehingga  sistem  yang dikembangkan harus berorientasi kepada penggunanya.

1.3. Penerimaan (Acceptance) Penggunaan Personal Computer (PC)
Berdasarkan basil penelitian yang di lakukan oleh peneliti  di bidang  TI khususnya di negara Amerika Serikat, secara empiris terbukti bahwa PC semakin banyak di  gunakan (lihat  Gallun,et.al  1987~  Darryl, 1994). Personal Computer sebagai komputer tipe kecil sering di jumpai penggunaannya di masyarakat luas (Burstein, 1986),  sehingga  semakin   menujukkan  begitu  luasnya  penerimaan penggunaan  Personal Computer dimasyarakat  (Yap,et.al,1992)   dalam Mhd.Jantan.et.al   (2001).  Bebeberapa  perusahaan  raksasa  di dunia  yang mengembangkan   teknologi  komputer  seperti IBM ,NEC.Epson, Accer, Microsoft.Toshiba juga  melaporkan  bahwa  pasar teknologi  komputer  didunia  saat ini  didominasi   oleh  penjualan   Personal  Computer (PC}  Data  terakhir   untuk tahun  2002,  permintaan   pasar  Personal Computer dunia  mengalami   kenaikan 12,97 %  dari tahun  2001  yang menujukkan   trend  kenaikan  atas penggunaan  PC di dunia  (Media  Indonesia,  24 Juni 2002).
Di Indonesia  penggunaan  PC secara  umum  dapat  dengan mudah  di temui di ·  masyarakat,   walaupun   secara· pasti  tidak  diketahui   tingkat   penggunaa PC diseluruh  propinsi  dan  frekuensi  penggunaan   PC disegala  lapisan  masyarakat  di Indonesia,   namun  berdasarkan   beberapa   basil  penelitian   yang  di  lakukan   oleh para  peneliti   di  Indonesia   secara   empiris   terbukti   bahwa   penerapan   TI  baik penggunaan    komputer   skala   besar   (mainframe  computer)  maupun   komputer mikro  (micro computer) bagi  organisasi-organisasi    yang  diteliti  sebagai  sampel penelitian,   ditemui   bahwa  penggunaan   komputer   merupakan   sesuatu   hal  yang lazim, sehigga semakin membuktikan  bahwa PC memang sudah dikenal dan dipergunakan   secara  luas (lihat Nur Indriantoro,  2000, Sarana,  2000;  Nurcahyati, 2002, Juniarti,2001).

1.4. Teori  dan  Model Penerimaan   Teknologi Informasi  (Tl) dengan
Technology Acceptance Model (TAM)
Model penerimaan teknologi (Technology Acceptance Model atau TAM) merupakan suatu model penerimaan sistem teknologi informasi yang akan digunakan  oleh  pemakai.  TAM  dikembangkan oleh  Davis  et al. berdasarkan model TRA. TAM menambahkan dua konstruk utama ke dalam model TRA. Dua konstruk  utama  inadalah  kegunaan  persepsian  (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) (Davis et al, 1989:320).
Beberapa  model  telah  dibangun  untuk  menganalisis  dan  memahami faktor-faktor yang mempengaruhi diterimanya penggunaan teknologi kornputer, diantaranya  yang  tercatat  dalam  berbagai ·      literatur  dan  referensi   basil  riset dibidang  teknologi   informasi ada!ah seperti  Theory of Reasoned Action (TRA), Theory of Planned Behavior (I'PB).  dan Technology Acceptance Model (FAM) (Mhd.Jantan.et.al,2001).   Model  TAM yang dikembangkan oleh Davis F.D (1989) merupakan salah satu model yang paling  banyak digunakan dalam penelitian TI (lihat Iqbaria.et.al,1997; Adam.et.al,1992; Mhd.Jantan.et.al.2001;    Chin  dan Todd, 1995),    karena   model   ini   lebih    sederhana,   dan   muda diterapkan (Iqbaria,.1995)  dalam  Sarana (2000).
Model   TAM  sebenarnya   diadopsi   dari  model   The Theory of Reasoned Action  (I'RA), yaitu  teori  tindakan  yang beralasan  yang dikembangkan  oleh Fishbe  dan  Ajzen  ( 1975),  dengan  satu  premis  bahwa  reaksi  dan  persepsi seseorang  terhadap  sesuatu  hal,  akan  menentukan  sikap  dan  prilaku  orang tersebut. Teori ini membuat model prilaku seseorang sebagai suatu fungsi dari tujuan  prilaku  .    Tujuan  prilaku  di  tentukan  oleh sikap  atas  prilaku  tersebut (Sarana,2000).
Dengan demikian dapat di pahami reaksi dan persepsi pengguna TI akan mempengaruhi  sikapnya dalam  penerimaan  penggunaan  TI,  yaitu  salah  satu faktor yang dapat mempengaruhi adalah persepsi pengguna atas kemanfaatan dan kemudahan penggunaan TI sebagai suatu tindakan yang beralasan dalam konteks penggunaa TI, sehingga alasan seseorang dalam melihat manfaat dan kemudahan penggunaan TI menjadikan tindakan orang tersebut dapat  menerima penggunaan Personal Computer (PC). Model TAM yang dikembangkan dari teori psikologis menjelaskan prilaku pengguna komputer, yaitu berlandaskan pada kepercayaan (belief), sikap (attitude), intensitas (intention) dan hubungan prilaku pengguna (user behavior relationship). Tujuan model ini untuk menjelaskan faktor-faktor utama dari prilaku pengguna TI tehadap penerimaan penggunaan TI itu sendiri. Model TAM secara lebih terperinci menjelaskan penerimaan TI dengan dimensi- dimensi tertentu yang dapat mempengaruhi dengan mudah diterimanya TI oleh sipengguna (user).
Model   ini  menempatkan    faktor   sikap   dari  tiap-tiap   prilaku   pengguna dengan  dua variabel  yait kemanfaatan   (usefulness)dan  kemudahan penggunaan (ease of use). Secara empiris model ini tel ah terbukti memberikan gambaran pada aspek prilaku pengguna PC, dimana banyak pengguna PC dapat dengan mudah menerima TI karena sesuai dengan apa yang diinginkannya (Iqbaria,et.al,1997). Kedua   variabel    model   TAM   yaitu   kemanfaataan   (usefulness) dan kemudahan penggunaan (ease of use) dapat menjelaskan aspek keprilakuan penggu~a (Davis.et.al,1989    dalam  Iqbaria.et.al 1997).  Kesimpulannya adalah Model TAM  dapat menjelaskan  bahwa  persepsi pengguna akan menentukan sikapnya dalam penerimaan penggunaan TL Model im   secara lebih jelas menggambarkan    bahwa penerimaan penggunaan TI dipengaruhi oleh kemanfaatan (usefulness) dan  kemudahan penggunaan (ease of use). Keduanya memilikdeterminan yang tinggi dan validitas yang sudah teruji secara empiris (Chau,1996;  Davis,1989; dalam Jantan,  2001).
Model TAM yang dikembangkan oleh Davis.F.D (1989) juga mendapat perluasan dari  para peneliti   seperti Iqbaria (19.94;1997);   Ferguson (1991)   dan Chin and Todd (1995).   Chin and Todd (1995) membagi dua faktor pada variabel kemanfaatan yaitu;  (Ikemanfaatan dan ,(2) efektifitas dengan masing-masing dimensinya  sendiri Ferguson·  (1991)    menunjukkan  hasil  penelitian  bahwa terdapat  indikasi variabel  hasil kerja  dipengaruhi oleh penggunaan komputermikro   dan   sikap   pengguna   komputer   tersebut   dipengaruhi    oleh  kemanfaatan (usefulness) dan  kemudahan (ease of use) penggunaan.

1.5. Konstruk-Konstruk di TAM
Technology Acceptance Model (TAM) yang pertama dan belum dimodifikasi menggunakan lima konstruk utama. Kelima konstruk tersebut adalah sebagai berikut
a)        Kegunaan persepsian (perceived usefulness)
Kegunaan persepsian (perceived usefulness) didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan kinerja pekerjaannya (as the extent to which a person believes that using a technology will enhance her or his performance.”) Dengan demikian jika seseorang percaya bahwa sistem informasi berguna maka dia akan menggunakannya. 
Penelitian-penelitian   sebelumnya   menunjukka bahwa konstruk  kegunaan  persepsian  (perceived usefulness) mempengaruhi  secara positif dan signifikan terhadap penggunaan sistem informasi (misalnya Davis, 1989; Chau, 1996; Igbaria et al., 1997; Sun, 2003) Penelitian-penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kegunaan persepsian (perceived usefulness) merupakan konstruk yang paling banyak signifikan dan penting yang mempengaruhi sikap (attitude), niat (behavioral intention), dan perilaku (behavior) di dalam menggunakan teknologi dibandingkan dengan konstruk lainnya. Sebaliknya, penelitian Karahna dan Limayem pada tahun 2000 yang menggunakan variabel karakteristik tugas dalam penelitiannya memperoleh hasil bahwa penentu penggunaan sistem informasi dengan konstruk PU dan PEOU berbeda untuk tugas-tugas yang berbeda (Jogiyanto, 2008: 126).Davis menggunakan 6 buah item untuk membentuk konstruk ini. Keenam item tersebut adalah Work More Quickly, Job Performance, Increase Productivity, Effectiveness, Makes Job Easier, dan Useful.

b)       Kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use)
Kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan bebas dari usaha (is the extent to which a person believes that using a technology will be free of effort.”) Dapat disimpulkan bahwa jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi mudah digunakan maka dia akan menggunakannya. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukan bahwa konstruk kemudahan  penggunaan  persepsian  (perceived ease of use) mempengaruhi kegunaan persepsian (perceived usefulness), sikap (attitude), niat (behavioral intention), dan penggunaan sesungguhnya (behavior). Walaupun pada penelitian Chau dan Hu pada tahun 2002 tentang penggunaan teknologi telemedicine oleh dokter-dokter di Hongkong mendapatkan hasil yang sebaliknya (Jogiyanto, 2008: 217). Seperti halnya pada konstruk kegunaan persepsian (perceived usefulness) Davis menggunakan 6 buah item untuk membentuk konstruk ini. Keenam itemtersebut adalah Easy of Learn, Controllable, Clear & Understandable, Flexible, Easy to Become Skillful, dan Ease to Use.

1.6.Kelebihan dan Kelemahan Model Penerimaan Teknologi
Setiap teori, model, teknologi dan aplikasi memiliki kelebihan dan kelemahan, MPT juga memiliki kelebihan dan kelemahan. Beberapa kelebihan yang diberikan oleh MPT ini adalah:
(1)Banyak model-model penerapan sistem teknologi informasi yang tidak mempertimbangkan faktor psikologis atau perilaku (behavior) pada model mereka. MPT mempertimbangkan faktor psikologis atau perilaku (behavior) tersebut.
(2) MPT dibangun atas dasar teori yang kuat.
(3) MPT telah banyak digunakan dalam berbeagai penelitian di bidang teknologi. Hasil menunjukkan sebagian besar dukungan dan menyimpulkan bahwa MPT adalah model yang baik dan hasilnya juga konsisten.
(4) MPT adalah model yang parsimoni (parsimonious) yaitu model sederhana tetapi valid.

Selain kelebihan, MPT juga memiliki kelemahan seperti,
(1) MPT belum menjelaskan alasan mengapa pemakai sistem mempunyai kepercayaan- kepercayaan tersebut.
(2) MPT tidak menjelaskan perilaku pemakai sistem teknologtidak  dikendalikan  dengan  kontrol  perilaku  yang  membatasi  niat perilaku seseorang.
(3) Banyak penelitian menggunakan MPT yang belum tentu mencerminkan atau mengukur pemakaian sebenarnya.
(4) Penelitian MPT sebaiknya hanya menggunakan sebuah sistem informasi, kenyataannya pengguna sistem dihadapkan pada lebih dari satu sistem informasi.
(5) Banyak penelitian MPT menggunakan mahasiswa S1 sebagai subjek dan mahasiswa S1 tidak memproksikan para profesional sebagai pengguna sistem, yang lebih mampu mencerminkan lingkungan kerja yang sesungguhnya.
(6) Penggunakan subjek tunggal (satu jenis kelompok) memberikan hasil penelitian yang tidak dapat digeneralisasikan lintas organisasi atau kelompok secara umum.
(7) Penelitian seperti ini umumnya adalah cross sectional,  yang  validitas  eksternahasilnya rendah    dan tidak dapat digeneralisasikan lintas waktu.
(8) Penelitian menggunakan MPT hanya menggunakan satu jenis tugas, pada kenyataannya teknologi yang dipakai untuk menyelesaikan lebih dari satu jenis tugas.
(9) Model penelitian MPT kurang mampu menjelaskan antar hubungan (causation) variabel di dalam model.
(10) Tidak mempertimbangkan perbedaan kultur.indicator of Personal Computer Acceptance  " , berdasarkan kutipan dari Davis FD (1989)  tersebut  dapat  dipahami  bahwa  penggunaan sistem dan  frekuensi pengunaan sistem sebagaindikator penerimaan penggunaan PC, sebab secara logika sederhana dinyatakan  oleh Davis.F.D (1989), bahwa sistem yang diterima adalah sistem yang digunakan.

2. Model Keberhasilan Sistem Informasi DeLone dan McLean
Model Keberhasilan Sistem Informasi DeLone dan McLean merupakan penting untuk melakukan evaluasi efektivitas penerapan sistem informasi dan analisis mengenai faktor-faktor penyebab keberhasilan maupun kegagalannya sehingga dapat menjadi pelajaran baik bagi organisasi itu sendiri maupun bagi organisasi- organisasi lain. Evaluasi kinerja sistem informasi mengandung arti evaluasi atas kinerja hardware, software, jaringan komputer, data dan manusia yang terlibat dalam sistem informasi dimaksud. Dalam dua dasawarsa terakhir, banyak peneliti telah membahas mengenai evaluasi kinerja sistem informasi. Kriteria-kriteria dan klasifikasi untuk evaluasi kinerja sistem informasi dan keberhasilannya dalam organisasi telah banyak dirumuskan. Salah satu model yang populer yang dimaksudkan sebagai kerangka kerja untuk konseptualisasi dan operasionalisasi keberhasilan sistem informasi adalah model yang dikembangkan oleh DeLone dan McLean (1992) yang dikenal dengan Model Kesuksesan Sistem Informasi DeLone dan McLean. Model yang diusulkan oleh DeLone dan McLean (1992)  adalah  sebuamodel  yang  memfokuskan  pada  kesuksesan  implementasi  di tingkat organisasi yang didasarkan pada proses hubungan kausal dari elemen-elemen pengukuran keberhasilan sistem informasi yang terdapat dalam model ini. Gambaran awal model ini adalah sebagaimana Gambar  di bawah.


Gambar 1 Model Keberhasilan Sistem Informasi DeLone dan McLean (1992)
Dari gambar diatas, maka dapat dijelaskan secara singkat bahwa keberhasilan sistem informasi ditunjukkan dengan enam dimensi, yakni: kualitas sistem (system quality), kualitas  informasi  (information  quality),kepuasan  pemakai  (user  statisfaction), penggunaan (use), dampak individu (individual impact), dan dampak organisasi (organizational impact). Model yang diusulkan ini merefleksikan ketergantungan dari kualitas sistem (System Quality) dan kualitas informasi (Information Quality) yang kemudian secara independen dan bersama-sama mempengaruhi baik elemen penggunaan (Use) dan kepuasan pemakai (User Satisfaction). Besarnya elemen penggunaan (Use) dapat mempengaruhi besarnya nilai kepuasan pemakai (User Satisfaction) secara positif dan negatif. Dan penggunaan (Use) dan kepuasan pemakai (User Satisfaction) mempengaruhi dampak individual (Individual Impact) dan selanjutnya mempengaruhi dampak organisasional (Organizational Impact).
DeLone dan McLean kemudian melakukan revisi modelnya menjadi Model Update Kesuksesan  Sistem  Informasi  DeLone  dan  McLean  (2003).  Pada  model  revisi  ini, DeLone dan McLean menambahkan dimensi kualitas layanan (service quality) dan menggabungkan dua dimensi: pengaruh individu (individual impact) dan pengaruh organisasi (organizational impact) menjadi dimensi keuntungan bersih (net benefit) sehingga menjadi model sebagaimana Gambar 2 di bawah ini.

Keenam elemen faktor atau komponen dalam pengukuran dari model ini adalah sebagai berikut:
1) System Quality dapat mengukur karakteristik dalam PMB online seperti kemudahan untuk digunakan, keandalan sistem, kecepatan akses, fleksibelitas sistem, serta
keamanan.
2) Information Quality mengukur kualitas keluaran dari sistem informasi.   Kualitas informasi yang dihasilkan harus relevan, lengkap, dan mudah dimengerti.
3) Service Quality awalnya digunakan dalam penelitian pemasaran (marketing), dalam
teori service quality dari hasil riset pustaka [2] dan web quality hasil riset [3] dan [6].
4) Use meliputi keseluruhan sistem pencarian informasi serta interaksi melalui navigasi dalam website.
   5) User Satisfaction meliputi cara mencari informasi
6) Net Benefits merupakan penggabungan dampak individual (individual impact).
2.1. Populasi dan Teknik Sampling
Teknik sampling dalam pengambilan sampel ini mengunanakan teknik sampling nonprobability sampling. Teknik nonprobability sampling artinya dalam setiap elemen dari populasi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel pada daftar pustaka [3]. Teknik nonprobability sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah
judgement sampling, yaitu pemilihan sampel yang sesuai dengan beberapa kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti, yaitu:
1) Pengguna salah satu website yang diamati, yaitu website PMB Universitas Kristen
Duta Wacana Yogyakarta.
2) Pengguna berdomisili di Yogyakarta.
3) Berusia 17 tahun ke atas.
Pengguna melakukan pendaftaran online dan menilai dari sisi kesuksesan sistem informasi menggunakan model Delone dan Mclean. Informasi tentang input data pemakai PMB online melalui sistem, informasi dan layanan.
2.2. Validasi Model Melalui Pengujian Empiris
Setelah  dipublikasikan  pada  tahun  1992,  model  DeLone  dan  McLean  kemudian mendapat perhatian dari para peneliti untuk melakukan validasi model melalui pengujian empiris. DeLone dan McLean (2003) mengidentifikasi 16 penelitian empiris dari berbagai negara yang menggunakan constructs keberhasilan multi dimensi dan mengukur keterkaitan antara constructs keberhasilan berdasarkan model awal yang dipublikasikan tahun 1992. Hasil penelitian-penelitian ini menunjukan dukungan yang kuat atas model keterkaitan antar dimensi keberhasilan sistem informasi yang diajukan dan membantu mengkonfirmasi struktur sebab-akibat dalam model dimaksud. Dalam konteks Indonesia, penelitian-penelitian  juga  dilakukan  untuk  mengujvaliditas  modeini,  antara  lain Budiyanto (2009) yang menggunakan model DeLone dan McLean versi awal (1992) untuk melakukan evaluasi kesuksesan implementasi billing system di RSUD Kabupaten Sragen serta Falgenti dan Pahlevi (2013) yang melakukan evaluasi keberhasilan sistem informasi ERP pada usaha kecil dan menengah dengan menggunakan Model Update Kesuksesan Sistem Informasi DeLone and McLean (2003).


KESIMPULAN
Paper ini membahas tentang  tentang  Technology Acceptance Model (Tam), dan Model Keberhasilan Sistem Informasi DeLone dan McLean. Technology Acceptance Model (Tam) merupakan Model penerimaan teknologi (Technology Acceptance Model atau TAM) merupakan suatu model penerimaan sistem teknologi informasi yang akan digunakan  oleh  pemakai.  TAM  dikembangkan oleh  Davis  et al. berdasarkan model TRA. TAM menambahkan dua konstruk utama ke dalam model TRA. Dua konstruk  utama  inadalah  kegunaan  persepsian  (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) (Davis et al, 1989:320).
Sedangkan model Keberhasilan Sistem Informasi DeLone dan McLean merupakan penting untuk melakukan evaluasi efektivitas penerapan sistem informasi dan analisis mengenai faktor-faktor penyebab keberhasilan maupun kegagalannya sehingga dapat menjadi pelajaran baik bagi organisasi itu sendiri maupun bagi organisasi- organisasi lain. Evaluasi kinerja sistem informasi mengandung arti evaluasi atas kinerja hardware, software, jaringan komputer, data dan manusia yang terlibat dalam sistem informasi dimaksud.


DAFTAR PUSTAKA

Bayu. T. 2015. “ Dimensi Keberhasilan Penerapan Sistem Informasi Berdasarkan Model Delone dan Mclean”. Artikel. Institut Pertanian Bogor.

Azizul. K. 2002.” Analisis      Penerimaan  (Acceptance) Penggunaanpersonal           Computer (Pc) Dengan   Technology Acceptance  Model (Tam) ( Studi Kasus Pada Perusahaan Perdagangan Kecil Di Kota Medan)”. Tesis. Program  Studi Magister  Sains Akuntansi Program  Pascasarjana Universitas   Diponegoro Semarang.

Lisa. 2015. “analisis faktor-faktor penerimaan penggunaan quipperschool.com dengan menggunakan pendekatan technology acceptance model (tam) dan theory of planned behavior (tpb) di sma negeri 7 yogyakarta”. Skripsi. Universitas Negeri Yogyakarta.

Melisa.T.A. 2015. “Model Penerimaan Teknologi (Technologi Acceptance Model)”. Karya Ilmiah. Fakultas Ekonomi Universitas Hkbp Nommensen Medan.

Nurhasan. N. 2015. “Analisis Penerimaan Mahasiswa Baru Online Universitas Kristen Duta Wacana Menggunakan Model Kesuksesan Sistem Informasi Delone dan Mclean (D&M)”. Skripsi. STIE Bina Bangsa Banten.

  








Tidak ada komentar:

Posting Komentar