Sharing Materi Perkuliahan Sarjana dan Pascasarjana: Mengenai materi Akuntansi, Ekonomi, Sistem Informasi, Teknik Informatika, Informasi Teknologi dan Pengetahuan Umum

Breaking

Jumat, 19 Mei 2017

Pengantar Ekonomi, Pengangguran; Persoalan, Dimensi Analisisnya, Masalah ketenaga kerjaan, sejumlah persoalan dasar, dimensi-dimensi penganguran dinegara-negara dunia

Oleh : Yovi Citra Nengsih

PENGGANGURAN: PERSOALAN, DIMENSI DAN ANALISISNYA
A.    Masalah ketanaga kerjaan, sejumlah persoalan dasar
Secara historis, pembangunan ekonomi di eropa barat dan amerika utara bertumpu pada pengalihan aktivitas ekonomi secara berkesinambungan dan migrasi dari daerah perkotaan ,baik dalam satu Negara maupun antar Negara. Kesempatan kerja terbuka saat industri mulai berkembang, namun pada waktu yang sama teknologi yang hemat tenaga kerja mulai ditemukan sehingga banyak mengurangi tenaga kerja. Akibatnya pergeseran aktivitas ekonomi menimbulkan daerah pemukiman kumuh dan pengangguran di emperan jalan yang pernah mewarnai kehidupan sosial inggris di abad ke 19. Namun kedua fenomena tersebut justru telah memberi suatu dorongan serta memungkinkan inggris maupun Negara – Negara barat lainnya untuk mengadakan suatu pemindahan sumber-sumber daya manusia dari daerah pedesaan ke daerah peerkotaan.  
Berlawanan dari pengalaman negara – negara yang kini maju tersebut banyak ekonomi berpendapat bahwa pembangunan ekonomi Negara berkembang harus dilakukan dengan penekanan pada percepatan pertumbuhan industri dan  fungsi kota kota sebagai pusat pertumbuhan dan pangkal tolak pengembangan ekonomi. Tapi dalam kenyataannya penerapan strategi ini sering gagal di masa lampau. Perpindahan secara besar – besaran dari daerah pedesaaan ke daerah perkotaan banyak sekali dampak negative yang ditimbulkan seperti stagnasi produktifitas pertanian, lonjakan pengangguran. Pengangguran penuh atau pengangguran terbuka (open employment) di daerah perkotaan negara miskin 10 hingga 20% dari total angkatan kerja. Sedangkan Penduduk yang bekerja paruh waktu berpenghasilan sangat minim disebut pengangguran terselubung(underemployment).
Krisis pengangguran yang terjadi tahun 1980-1990an jauh lebih serius, sebab-sebabnya jauh lebih serius dari masalah yang pernah terjadi tahun 1960-1970an sehingga penanganan bebeda. Masalah pokok nya terletak pada kalangan kegagalan penciptaan lapangan kerja, pada tingkat yang sebanding dengan laju pertumbuhan industry yang sedemikian pesat. Angka pengangguran mengalami peningkatan yang sangat pesat, dikarenakan oleh terbatasnya permintaan tenaga kerja yang di tambah memburuknya kondisi nerca pembayaran, meningkatnya masalh utang luar negri dan sebagainya. Factor – factor tersebut mengakibatkan kemrosotan pertumbuhan industri, tingkat upah dan penyediaan lapangan kerja di perkotaan. Pada dasarnya ada 3 macam alasan untuk melakukan usaha dari masalah tersebut:
  • Masalah pengangguran terselubung kini lebih banyak menimbulkan dampak negative
  • Masalah ketenagakerjaan di Negara Negara ketiga lebih kompleks
  • Apapun dimensi dan penyebab timbulnya penganguran di Negara Negara dunia ketiga selalu bekaitan dengan kerapuham mental manusianya.

B.     Dimensi- dimensi pengangguran di Negara Negara dunia ketiga: kenyataan dan konsep
1)      Kesempatan kerja dan pengangguran: kecenderungan dan proyeksi
Pada tahun 1970an perhatian pakar ekonomi mengungkapkan gambaran umum yabg lebih luas dan lebih akurat mengenai dimensi kuantitatif atas masalah pengangguran. Perkembangan yang penting adalh ketika organisasi buruh internasonal merencanakan serangkaian program studi ketenaga kerjaan. Dan tingkat pengangguran di negra-negara dunia ketiga selalu dianggap masalah paling penting  yang harus dikedepankan.
2) Empat dimensi masalah ketenagakerjaan
a. pengangguran terdidik
Tingkat pengangguran dan tingkat pendidikan situasinya terbalik dengan yang ada di Negara Negara maju. Di sejumlah Negara berkembang, semakin tinggi pendidikan seorang maka semakin besar kemungkinan ia menganggur. Dan Negara-negara berkembang, tingkat pengangguran lebih banyak ditemukan di kalangan mereka yang mengenyam pendidikan yang tinggi.
b. Pekerja mandiri
Di kalangan Negara-negara berkembang yang mungkin tidak begitu lazim ditemukan di Negara – Negara berkembang adalah banyaknya pekerja mandiri (self employment), atau orang orang yang menciptakan pekerjaan sendiri, atau melakukan segala sesuatunya sendirian. ketidakmampuan para pengusaha untuk menggaji orang lain mendorong mereka untuk melakukan segala sesuatunya sendiri pada sistim perekonomian modern. Inilah yang mewarnai sektor informal baik di perkotaan maupun di daerah  pedesaan. Di Negara-negara dunia ketiga jauh lebih besar ketimbang yang ada di Negara – Negara maju. Perbedaan lainnya adalah pada kelas pekerjaan dan imbalannya.
c. kaum wanita di dunia kerja
Meskipun partisipasi kaum wanita dalam angkatan kerja di Negara-negara dunia ketiga telah meningkat secara dramatis pada tahun 1990, namunn kebanyakan dari mereka hanya di bayar di tempat – tempat yang tidak menghasilkan pendapatan, atau tidak di bayar sama sekali. Peran aktif kaum wanita dalam dunia kerja terpusat di sector pertanian. Kaum wanita hampir selalu mengalami  diskriminasi dalam hal perolehan imbalan, peningkatan kelas pekerjaan, dan dalam keamanan kerja. Proporsinya  yang menganggur juga lebih besar ketimbang kaum pria.
d. pengangguran di kalangan pemuda dan pekerja anak-anak
          David Turnham memperkirakan pengangguran di kalangan pemuda di sebagian besar negara berkembang mencapai 30%. Para pemuda yang menganggur itu di daerah perkotaan. Banyak di antaranya yang merupakan migran dari desa. Akibat pesatnya laju pertumbuhan negara berkembang, porsi pemuda dalam total penduduk menjadi kian besar, dan menambah tekanan penyediaan lapangan kerja. Masalah ini cepat atau lambat akan mengganggu keseluruhan usaha pambangunan di negara Dunia Ketiga.
3.Angkatan kerja : situasi dewasa ini dan proyeksi
Dari sekian banyak proses yang berkaitan dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan tenaga kerja, ada 2 masalah terpenting yaitu yang pertama adalah tingkat mortalitas dan fertilitas. Tingkat pertumbuhan alami sebesar 3% pada perbandingan 50 : 20 per seribu penduduk mempunyai implikasi tenaga kerja yang sangat berbeda apabila perbandingannya 40 : 10. Perbedaan ini membawa implikasi perbedaan struktur usia populasi (age structure of the population). Penurunan tingkat kematian secara cepat di berbagai negara berkembang dewasa ini telah meningkatkan jumlah angkatan kerja, sedangkan tingkat kelahiran tinggi bukan hanya mengakibatkan rasio beban ketergantungan yang tinggi, tapi juga memperbesar potensi kenaikan angkatan kerja di masa datang.
Hal penting kedua dampak penurunan tingkat fertilitas terhadap jumlah tenaga kerja dan struktur usia baru akan terasa dalam jangka panjang walaupun penurunan tingkat fertilitas itu sendiri berlangsung secara tepat. Penurunan tingkat fertilitas di Negara berkembang secara keseluruhan sebesar 50% dalam tahun 2000 baru akan menurunkan jumlah angkatan kerja pria sebesar 13% pada tahun 2015, atau pengurangan jumlah pencarian kerja dari 1,39 Milyar orang menjadi 1,21 Milyar orang. Kenyataan menunjukkan bahwa mereka yang akan memasuki angkatan kerja pada dua dasawarsa yang akan dating di tentukan oleh tingkat fertilitas pada saat ini.
4.Pemanfaatan tenaga kerja yang tidak optimal : beberapa perbedaan definisi
      Profesor Edward membedakan 5 jenis pokok dari pengerahan tenaga kerja yang tidak optimal (underutilization of labor) tersebut:
a)      Pengangguran Terbuka (Open Unemployment) yakni, mereka yang benar-benar tidak bekerja baik secara sukarela  Mereka tidak mau memanfaatkan kesempatan kerja yang tersedia, maupun karena terpaksa (mereka yang sesungguhnya sangat ingin bekerja secara permanen namun tidak kunjung mendapatkannya)
b)       Pengangguran Terselubung (Underunemployment) yakni, para pekerja yang jumlah jam kerjanya lebih sedikit dari yang sebenarnya mereka inginkan (sebagian besar bekerja hanya secara harian, mingguan atau musiman). Kategori ini dan kategori nomor 3 di bawah merupakan bentuk penganguran sementara yang paling banyak dan paling muda dijumpai di mana saja. Perlu dilaporkan dibebani oleh tingkat pengangguran murni atau terbuka sebesar 15% di tahun 1992. akan tetapi jika angka pengangguran terselubung ikut dihitung, maka total penganggurannya mencapai 70%.
c)      Mereka yang nampak aktif bekerja tapi sebenarnya kurang produktif (the visibly active but undertilized),
a.       Pengangguran terselubung yang terlindungi (disguised underunemployment)
b.      Pengangguran yang tersembunyi (hidden unemployment)
c.       Pensiun terlalu dini (premature retriment unemployment)

d)     Tidak mampu bekerja secara penuh (The Impaired), misalnya penyandang cacat sebenarnya ingin bekerja secara penuh, akan tetapi hasratnya akan terbentur pada kondisi fisik yang lemah dan tidak memungkinkan karena kekurangan gizi atau bahkan keterlambatan pengobatan secara dini ketika mereka mulai terserang penyakit.
e)      Mereka yang tidak produktif (The Unproductive), mereka tidak memiliki sumber-sumber daya komplemen yang memadai untuk menghasilkan output. Yang mereka miliki hanya tenaga, sehingga meskipun mereka sudah bekerja keras hasilnya tetap saja tidak memadai.

5.Keterkaitan antara pengangguran, kemiskinan dan distribusi pendapatan
   Antara tingkat pengangguran (terbuka dan tertutup) kemiskinan absolut yang merajalela, serta ketimpangan distribusi pendapatan, ternyata terdapat keterkaitan yang sangat erat. Kelompok paling miskin adalah mereka yang tidak memiliki pekerjaan teratur atau yang hanya bekerja secara musiman. Mereka yang memiliki pekerjaan permanen di sektor pemerintah ataupun di sektor swasta pada umumnya termasuk ke dalam kelompok pendapatan menengah dan tinggi. Antara pengangguran dan kemiskinan tidak bisa diidentikkan, namun kita tetap bisa menyimpulkan dengan aman bahwa salah satu cara atau mekanisme yang utama dalam rangka mengarungi kemiskinan dan tidak kemerataan distribusi pendapatan di negara berkembang adalah penciptaan lapangan kerja berupah memadai bagi kelompok penduduk yang paling miskin. Akan tetapi, masih diperlukan berbagai tindakan, baik di bisang ekonomi maupun sosial. Namun tentu saja upaya panyediaan lapangan kerja merupakan elemen kunci dari keseluruhan upaya pengentasan kemiskinan.
6.Kesenjangan antara kenaikan output industri dan pertumbuhan kesempatan kerja
  Dekade 1960an salah satu doktrin utama yang menonjol dalam kepustakaan ilmu ekonomi pembangunan menyebutkan keberhasilan ekonomi hanya dapat dicapai memalui kekuatan kembar yaitu akumulasi modal dan industrialisasi. Dari sekian banyak dampak negatifnya, justru telah mengakibatkan terlalu pesatnya laju pertumbuhan penduduk di berbagai pusat perkotaan sehubungan dengan meningkatnya arus urbanisasi penduduk dari segenap pelosok daerah untuk mencari pekerjaan dan kehidupan di kota.
  Banyak di negara Dunia Ketiga yang terbukti tidak mampu menyediakan lapangan kerja di sektor industri secara memadai meskipun mereka mengalami pertumbuhan output sektor manufaktur yang cukup pesat dan terjadi lonjakan pertumbuhan industri di antara negara berkembang. Hal itu tetap tidak mampu menyerap laju pertambahan pencari kerja. Pertambahan jumlah tenaga kerja itu sendiri 3-4 kali lipat lebih besar daripada laju pertumbuhan output manufaktur.

Model Model Ekonomi Tenteng Ketenaga Kerjaan
  1. Model pasar bebas kompetitif nasional
a.       Upah fleksibel dan kesempatan kerja secara penuh
Dalam perekonomian pasar bebas tradisional cirri utamanya antara lain adalah penonjolan kedaulatan konsumen, utilitas atau kepuasan konsumen, dan prinsip maksimalisasi keuntungan , persaingan sempurna, dan efesiensi ekonomi dengan produssen.
b.      Keterbatasan model pasar kompetitif tradisional bagi Negara Negara berkembang
Model kompetitif nasional menawarkan sedikit sekali petunjuk berarti mengenai kenyataan determinasi upah dan lapangan kerja yang terdapat di Negara Negara dunia ketiga, khususnya di sector manufaktur modern dan sector pemerintahan yang posisi kerjanya paling banyak di incar oleh para pencari para pencari kerja pada umumnya.

Pertumbuhan Output Dan Kesempatan Kerja: Konflik Atau Kesesuaian
a. Model-model pertumbuhan dan kesempatanmkerja: argumentasi konflik
Perhatian utama model model pertumbuhan yang mendominasi sebagian besar teori teori pembanguan pada decade 1950an dan dekade 1960an muncul kembali dalam bentuk aliran ilmu ekonomi yang sangat menekankan pentingnya sisi penawaran. Model – model ini menggabungkan tingkat penyediaan kesempatan kerja denagn tingkat pertumbuhan GNP, maka model tersebut mengisyaratkan bahwa dengan memaksimumkan pertumbuhan GNP-nya Negara Negara dunia ketiga akan dapat memaksimumkan penyerapan tenaga kerja . perangkat teoritis yang dipakai untuk menjelaskan proses pertumbuhan adalah model sederhana harrod domar yaitu pertumbuhan ekooimi terjadi sebagai  suatu hasil kombinasi pemupukan tingkat tabungan dan akumulasi modal fisik yang menjadi dampak pertamanya di satu pihak, dengan rasio modal-output di pihak lain.
b. Pertumbuhan dan kesempatan kerja: argumentasi kesesuaian
Secara umum kenaikan produktifitasyang sangat di inginkan. Yang sebenarnya sangat di dambakan adalah kenaikan produktifitas total, yakni kenaikan hasil output perunit dari seluruh sumber daya. pertumbuhan kesempatan kerja dan ekonomi bukanlah dua tujuan yang senatiasa bertentangan. Melainkan dus fenomena yang saling mempearkuat dan saling menunjang. Untuk mencapai tujuan ganda tersebut pemerintah Negara Negara berkembang perlu merumuskan dan menerapkan serangkaian kebijakan terpadu untuk menghilangkan aneka distorsi harga-harga factor produksi serta memacu peningkatan teknologi industry yang padat karya. Hal inilah yang membawa kita ke miodel determinasi ketenagakerjaan yang ketiga.
3.Penciptaan teknologi te[at guna dan perluasan kesempatan kerja: model intensif harga
a.       Pemilihan teknik produksi
Berdasarkan prinsip-prisip ekonomi, para produsen di asusiakn menghadapi dua harga relative factor produksi. Apabila harga modal lebih mahal di bandingkan harga buruh, maka pengusaha tersebut akan memilih teknik padat karya. Dan apabila harga relative tenaga kerja lebih mahal dari pada harga modal, maka para produsen akan mengguanakan metode padat modal.
b.      Distorsi harga factor teknologi tepat guna
Hampir semua Negara Negara dunia ketiga memiliki tenaga kerja yan g melimpah, namun kekurangan modal, baik financial(modal uang) maupun fisik(bangunan, perangkat atau peralatan pendukung) sehingga dengan mudah kita bias menerka bahwa teknik produksi yang mereka pakai tentunya padat karya. Factor produksi atau upah tenaga kerja di banyak Negara Negara dunia ketiga menjadi begitu mahal karena adanya tekanan – tekanan politik dari serikat buruh, pemberlakuan aturan tingkat upah minimum oleh pihak pemerintah, serta adanya praktek penggajian yang lebih tinggi dari perusahaan-perusahaan multinasional. Akibat neto adanya distrosi harga factor produksi tersebut adalah terus meningkatnya penggunaan teknik padat modal dim sector sector industry, bahkan juga disektor pertanian, di negara Negara berkembang. Guna mengatasi masalah tersebut, pihak pemerintah Negara Negara berkembang sangat di tuntut untuk melakukan berbagai macam upaya kebijakan demi menciptakan harga harga factor factor produksi “yang sempurna”.
c.       Kemungkinan subtitusi tenaga kerja modal
Besar kecilnya dampak dampak positif daripenghapusan distorsi tas harga harga factor produksi terhadap tingkat pertumbuhan kesempatan kerja juga ditentukan oleh sejauh mana tenaga kerja dapat di subtitusikan dengan modal dalam berbagai proses produksi industry. Elastisitas subtitusi factor yakni rasio persentasev perubahan dalam proporsi penggunaan tenaga kerja terhadap modal di bandingkan dengan rasio atas persentase perubahan harga modal relative terhadap tenaga kerja.

D.kesimpulan
Secara bersama – sama ketiga model itu telah berhasil mengungkapkan \:
1.      Bahwa harga - harga atas berbagai factor produksi sangat menentukan efisiensi alikasi sumber daya dan keberhasilan upaya penciptaan lapangan kerja baru.
2.      Kebijakan – kebijakan pemerintah yang khusus di rancang untuk m,empromosikan industrialisasi secara berlebiahan seringkali mengorbankan sector pertanian dan memperburuk masalh pengangguran.
3.      Setiap kebijakan yang di tunjukan untuk merangsang terciptanya metode produksi yang padat karya tidak dengan sendirinya akan dapat menirunkan laju pertumbuhan output

                        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar