Sharing Materi Perkuliahan Sarjana dan Pascasarjana: Mengenai materi Akuntansi, Ekonomi, Sistem Informasi, Teknik Informatika, Informasi Teknologi dan Pengetahuan Umum

Breaking

Jumat, 28 April 2017

Etika Kepemimpinan Islam,Resiko Etika, Manajemen Resiko Etika dan Peluang, Manajemen Krisis, Fase Krisis, Cara penanggulangan Krisis

Oleh : Yovi Citra Nengsih
BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia seakan mendapatkan banyaknya masalah-masalah sosial, politik  dan bisnis yang akhirnya berdampak pada krisis global saat ini. Kejadian ini pada umumnya disebabkan oleh degradasi atau semakin terkikisnya moralitas manusia, banyaknya pengabaian etika dalam berbagai kehidupan masyarakat tak terkecuali kegiatan bisnis. Banyaknya kehancuran bisnis yang terjadi didunia memberi dampak penderitaan yang cukup signifikan pada kehidupan masyarakat luas. Sebagian besar kejadian ini disebabkan oleh adanya pengabaian etika dalam setiap kegiatan bisnis.
Pengabaian etika adalah dilakukannya suatu kegiatan yang dianggap benar oleh para pengambil keputusan, namun membawa dampak merugikan atau dianggap salah oleh pihak lain. Contoh pengabaian etika itu sendiri antara lain adalah praktek kecurangan dalam pembuatan laporan keuangan, penyuapan, dan lain sebagainya. Kecurangan-kecurangan ini biasanya dipicu oleh godaan terhadap keuntungan jangka pendek yang menggiurkan. Pelanggaran terhadap etika seringkali baru terbukti dalam waktu yang cukup panjang, biasanya perusahaan-perusahaan cenderung mengabaikan etika dalam berbisnis untuk mencapai tujuan tertentu, sebagian yang lain yang lebih berintegritas akan memilih cara yang melibatkan etika dalam proses bisnisnya.
Titik tolak adanya pengabaian etika salah satunya adalah usaha perusahaan dalam mencapai tujuan utama mereka. Tujuan utama dari beroperasinya suatu perusahaan adalah untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Banyak cara yang dilakukan perusahaan dalam mencapai tujuan ini. Beberapa dari mereka yang berintegritas akan memilih cara yang melibatkan etika dalam menghasilkan laba, dan sebagian lainnya akan menggunakan rasionalisasi tertentu dengan sedikit banyak mengabaikan etika.
Sejarah membuktikan, mereka yang mengabaikan etika cenderung mengalami kehancuran lebih cepat daripada mereka yang melibatkan etika didalam keputusan bisnisnya, karena dengan mengabaikan etika, berbagai segi bisnis yang mengandung kesamaan nilai-nilai etika dapat hancur seperti halnya efek domino.
Dinamika pengabaian etika yang seperti inilah yang akhirnya memunculkan skandal korporasi Enron dan Arthur Andersen, World Com. Akibat buruk dari perilaku yang tidak etis bukan hanya akan menimpa perusahaan namun juga menimpa masyarakat secara umum. Dari hal-hal ini para pelaku praktisi bisnis dan keuangan mulai memperluas area manajemen risiko mereka yang tadinya hanya berpacu pada resiko-resiko bisnis, kini mulai memperhatikan manajemen dalam lingkup etika. Dalam literatur, manajemen di lingkup etika ini disebut manajemen resiko etika. Dalam Brooks (2004) dinyatakan para praktisi bisnis kini mulai menyadari bahwa meskipun manajemen resiko cenderung berfokus kepada masalah-masalah non-etis, bukti yang ada menunjukkan bahwa penghindaran bencana dan kegagalan juga memerlukan perhatian kepada masalah risiko etika.

1.2       Rumusan Masalah
           Terjadinya kasus kecurangan dalam perusahaan untuk menghasilkan laba sebanyak-banyaknya dengan mengabaikan nilai etika menjadi salah satu penyebab kehancuran banyak perusahaan. Pengabaian etika yang dilakukan membawa dampak yang merugikan bagi semua pihak. Permasalahannya adalah bagaimana mengelola resiko etika dan manajemen krisis dalam organisasi atau perusahaan?

1.3              Tujuan Penulisan
   Makalah ini adalah untuk mengetahui:
a.         Identifikasi serta pinilaian risiko etika dan peluang.
b.        Risiko etika dan manajemen peluang.
c.         Manajemen krisis perusahaan.

1.4              Metode Penulisan
            Makalah ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu mendeskripsikan, menguraikan, dan memberikan gambaran tentang bagaimana risiko etika dan manajemen krisis dalam perusahaan. Bersumber dari pada buku, jurnal dan penelitian terdahulu. Dari gambaran tersebut kemudian ditarik kesimpulan bagaimana seharusnya perusahaan dalam mengelola risiko etika dan manajemen krisis.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Resiko Etika
Resiko etika merupakan suatu kemungkinan dilanggarnya etika yang disebabkan oleh ketidakmampuan perusahaan atau institusi dalam memenuhi harapan stakeholder. Agar suatu organisasi atau perusahaan survive, maka harus menerapkan manajemen resiko etika. Manajemen resiko etika merupakan tata kelola yang menjunjung kode etik sehingga dapat meminimalisasi ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi harapan stakeholder. Ragam resiko etika dalam kaitannya dengan stakeholder adalah sebagai berikut:
Harapan stakeholder yang tidak dapat dipenuhi
Resiko Etika
Pemegang Saham
-    Adanya perilaku penggelapan dana dan asset
-    Adanya konflik kepentingan dengan para eksekutif perusahaan
-    Tingkatan performa perusahaan yang tidak sesuai dengan keinginan para pemegang saham
-    Keakuratan dan transparasi laporan keuangan

Kejujuran dan integritas,
pertanggungjawaban yang dapat diprediksi.

Kejujuran dan pertanggungjawaban

Kejujuran dan integritas
Karyawan
-    Keamanan Kerja
-    Pembedaan
-    Mempekerjakan anak di bawah umur dan pemerasan tenaga buruh
Pelanggan
-    Keamanan Produk
-    Performa Perusahaan
Lingkungan
-    Terciptanya Polusi


Kewajaran
Keadilan
Keadilan dan perlakuan kasih sayang


Keterbukaan
Kewajaran

Integritas dan pertanggungjawaban

2.2. Manajemen Resiko Etika
Dalam menerapkan manajemen resiko etika, terdapat beberapa tahapan yang dapat dilakukan oleh para investigator perusahaan, yaitu:
1.      Mengidentifikasi dan Menilai Resiko Etika dengan beberapa tahapan :
a.    Melakukan penilaian dan identifikasi para stakeholder perusahaan dengan membuat daftar mengenai siapa dan apa saja para stakeholder yang berkepentingan beserta harapan mereka, maka manajemen dapat melakukan penilaian dalam pemenuhan harapan stakeholder.
b.    Mempertimbangkan kemampuan aktivitas perusahaan dengan ekspektasi stakeholder, dan menilai resiko ketidaksanggupan dalam memenuhi ekspektasi stakeholder
c.    Meninjau ulang perbandingan aktivitas dan ekspektasi perusahaan dari perspektif dampak reputasi perusahaan. Reputasi tergantung pada empat faktor, yaitu kejujuran, kredibilitas, reliabilitas, dan tanggungjawab.
d.   Melakukan pelaporan
2.      Penerapan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan stakeholder.
3.      Akuntabilitas sosial dan audit

2.3. Manajemen Risiko Etika dan Peluang
Perusahaan telah dianggap bertanggungjawab secara hukum hanya kepada pemegang saham atau pemilik, tetapi kenyataannya secara strategis, mereka bertanggungjawab kepada yang lebih luas untuk para pemangku kepentingan, untuk tercapaiannya tujuan strategis. Ketika perusahaan tidak mampu memenuhi harapan dari para pemangku kepentingan maka hal ini akan berpotensi menyebabkan kerugian bagi perusahaan, akan tetapi jika hal yang sebaliknya terjadi maka perusahaan akan dapat menggalang dukungan dan memperoleh keuntungan. Organisasi risiko dan peluang etika telah diidentifikasi dan dinilai strategis perlu dikembangkan dengan taktik terbaik untuk mengatur mereka, untuk mengurangi masalah dan untuk menyelaraskan kegiatan dengan kepentingan stakeholder.

2.4. Manajemen Krisis
            Krisis memiliki dampak potensial yang sangat signifikan pada reputasi perusahaan dan pejabat, pada kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuan, dan kemampuannya untuk bertahan hidup. Akibatnya, eksekutif telah belajar bahwa krisis harus dihindari, dan jika tidak mungkin menghindari bahwa krisis adalah harus dikelola sehingga dapat meminimalkan kerugian.
            Teori manajemen krisis umumnya didasarkan atas bagaimana menghadapi krisis (crisis bargaining and negotiation), membuat keputusan di saat krisis (crisis decision making), dan memantau perkembangan krisis (crisis dynamics). Dalam situasi krisis, usahakan tetap tenang dan pertimbangkan dengan matang keputusan yang akan diambil karena akan menjadi taruhan reputasi public relations. Dalam bisnis terdapat 3 jenis krisis, yaitu sebagai berikut:
1)         Krisis Keuangan (Financial Crisis)
            Krisis keuangan adalah krisis yang terjadi karena perusahaan mempunyai masalah cash flow atau likuiditas jangka pendek dan kemungkinan pailit di masa datang. Krisis keuangan yang terjadi di Amerika sepanjang 2008 membuat banyak perusahaan bangkrut.
            Krisis global ini merupakan salah satu krisis keuangan yang terburuk dalam milenium baru ini. Biaya untuk memulihkan kondisi perekonomian Amerika membutuhkan dana sebesar US$700 miliar atau setara dengan Rp.6.500 triliun (bandingkan dengan krisis keuangan Indonesia tahun 1998-1999 yang ”hanya” memakan biaya sekitar Rp.650 triliun).
2)         Krisis Public Relations
Krisis public relations sering disebut sebagai krisis komunikasi, terjadi karena pemberitaan negatif yang kemudian berimbas buruk pada bisnis perusahaan. Pemberitaan media atau isu yang beredar bisa jadi benar atau mungkin saja tidak, tetapi berpotensi memengaruhi citra seseorang atau perusahaan. Salah satu krisis public relations yang hingga kini masih sering dibicarakan adalah dugaan korupsi mantan Presiden Soeharto dan keluarganya. Ketua Presidium Komite Waspada Orde Baru, Judilherry Justam, mengatakan korupsi yang dilakukan oleh keluarga mantan Presiden Soeharto, antara lain dana reboisasi, mobil nasional, tata niaga cengkeh, dan kilang migas.
3)         Krisis Strategi
            Krisis Strategi (strategic crisis) adalah perubahan dalam lingkungan bisnis yang mengakibatkan kelangsungan hidup perusahaan menjadi terganggu. Perusahaan sebaiknya selalu memiliki rencana dalam menghadapi krisis dan menghindari keputusan yang justru akan membuat perusahaan terperosok lebih jauh dalam krisis. Mereka harus tahu skenario terburuk yang akan terjadi dan harus mempunyai contingency plan dalam menghadapinya.

2.5. Fase Krisis

Fase krisis  ada empat yaitu : pra krisis, tidak terkendali, terkendali dan pemulihan reputasi. Tujuan utama dari manajemen krisis haruslah untuk menghindari krisis. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui perencanaan terlebih dahulu yang tepat, dengan memantau terus, dan dengan cepat, membuat keputusan yang efektif selama krisis.

a.    Upaya Penanggulangan Krisis
Public relations di dalam manajemen krisis dapat menanggulangi krisis dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut (Purwaningwulan,2013) :
1.      Peramalan Krisis (Forcasting)
            Manajemen krisis bertujuan untuk menekan faktor-faktor resiko dan faktor ketidak pastian seminimal mungkin. Setiap perusahaan menghadapi masa depan yang selalu berubah dan arah perubahannya tidak bisa diduga. Untuk itu peramalan terhadap krisis (forcasting) dilakukan pada situasi pra-krisis. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi dan menganalisa peluang (opportunity) dan ancaman (threat) yang terjadi di dunia bisnis. Untuk memudahkannya manajemen dapat melakukan peramalan dengan memetakan krisis pada peta barometer krisis.
2.      Pencegahan Krisis (Prevention)
            Langkah-langkah pencegahan sebaiknya diterapkan pada situasi pra-krisis, untuk mencegah kemungkinan terjadinya krisis. Namun, jika krisis tidak dapat dicegah, manajemen harus mengupayakan agar krisis tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar. Untuk itu, begitu terlihat tanda-tanda krisis, segera arahkan ke tahap penyelesaian.
3.      Intervensi Krisis (Intervantion)
            Langkah intervensi dalam situasi krisis bertujuan untuk mengakhiri krisis. Pengendalian terhadap kerusakan (damage control) dilakukan pada tahap akut. Langkah-langkah pengendalian terhadap kerusakan diawali dengan identifikasi, isolasi (pengucilan), mambatasi (timitation), menekan (reduction), dan diakhiri dengan pemulihan (recovery).
            Krisis tidak selalu bersifat negatif tetapi juga dapat berkembang ke arah yang positif. Oleh karena itu, yang harus dikelola adalah faktor resiko dan faktor ketidakpastiannya agar kelangsungan perusahaan dapat diperkirakan.
b.   Penyelesaian Krisis
   Untuk menyelesaikan krisis, manajemen harus memiliki crisis management plans yang didesain secara teliti untuk menghadapi berbagai level krisis yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, jika terjadi kondisi kritis, maka perusahaan dapat mendefinisikan dan merespon dengan baik. Melalui persiapan yang matang, pemimpin dapat memerintahkan bagaimana dan apa yang sebaiknya dilakukan saat krisis terjadi. Mengantisipasi krisis dapat dilakukan dengan menggunakan perencanaan stratejik dan manajemen resiko. Setiap krisis harus dihadapi secara serius oleh pimpinan dan disampaikan kepada publik secara jujur.
Menjalin hubungan yang baik dengan media untuk mendapatkan informasi tentang krisis yang terjadi. Karena keterbukaan informasi yang merupakan hasil dari pemberitaan media, seringkali mempengaruhi jalannya bisnis perusahaan dan dapat memberikan dampak negatif maupun positif dalam hal keuangan, politik, dan hukum.
Dalam menghadapi krisis dibutuhkan kepemimpinan yang efektif. Sang pemimpin mesti mengetahui tujuan dan strategi yang jelas untuk mengatasai krisis. Tentu harus dilandasi oleh rasa optimisme terhadap penyelesaian krisis. Mintalah dukungan dari semua orang, dan tunjukkan bahwa perusahaan mampu menghadapi krisis yang terjadi ini dengan baik. Tenangkan hati mereka. Ajaklah seluruh anggota organisasi untuk terlibat dalam mencari dan menjalani solusi krisis yang telah disusun bersama.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Tidak ada bisnis tanpa risiko, tidak ada perusahaan tanpa risiko, tidak ada rencana tanpa risiko, tidak ada tindakan tanpa risiko. Sebab, risiko adalah sesuatu yang selalu melekat dalam setiap gerak dan langkah perusahaan. Jadi, risiko itu seperti sebuah bayang-bayang yang akan terus mengikuti semua perjuangan perusahaan menuju puncak kebesarannya. Artinya, risiko tidak bisa dihapus, tapi bisa dikendalikan agar tidak merusak  potensi perusahaan. Hal yang paling penting untuk dipahami adalah bahwa sumber utama risiko berbahaya itu selalu berasal dari ketidaktahuan manajemen terhadap kekuatan rencana, tindakan, dan pengendaliannya. Oleh karena itu, sikap manajemen untuk selalu memahami tentang semua yang dilakukan, adalah sangat penting untuk pengelolaan risiko yang berkualitas. Manajemen juga harus selalu memiliki integritas yang tinggi, untuk patuh pada pedoman etika bisnis dan code of conduct perusahaan. Melalui pengelolaan manajemen risiko yang kreatif, perusahaan pasti dapat menjinakan semua bencana yang dihasilkan dari risiko-risiko liar yang berbahaya, dan perusahaan pasti terhindar dari berbagai bencana krisis ekonomi.
Saran
            Perusahaan berskala kecil ataupun besar , dan mereka yang berintergritas tinggi tidak akan memutuskan suatu keputusan secara rasional artinya tidak hanya tertuju pada laba atau keuntungan yang besar tetapi manfaat untuk semua yang akan berkaitan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar